Mazmur Nabi yang Tidak Taat (Yunus 2:1-10)

1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. 4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? 5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku 6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku. 7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. 8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!"

10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Pendahuluan

Beberapa tahun lalu, seorang teman saya memberikan gambaran yang sangat tepat mengenai situasi ini: “Bob, saya melihat ini seperti tumpukan salju dipembuangan. Itu terlihat indah kalau anda mulai membentuknya.”

Inilah perasaan saya terhadap mazmur Yunus, dalam Yunus 2. Sekilas, terlihat sangat taat, tapi setelah merenungkannya terlihat penipuan rohani. Tidak semua orang yang belajar Alkitab setuju dengan saya dalam hal ini. Sebenarnya saya tidak tahu ada orang yang memegang hal yang sama tentang hal ini. Sebagai contoh, judul dalam salah satu babTheodore Laetsch “Tuhan Menyelamatkan NabiNya yang Bertobat.”14 Saya tidak melihat ada bukti yang mendukung kesimpulan bahwa Yunus bertobat.

Konteks dari kitab tidak memberikan kita bukti menunjukan hal itu. Kita melihat dari Yunus 1 nabi ini dengan sadar tidak mematuhi perintah Tuhan untuk berseru dikota Niniwe. Sebaliknya melakukan perjalanan 500 mil berlawanan dari kota Niniwe, naik kapal dari Yopa, keTarsis. Ketidaktaatan Yunus mendatangkan badai, yang mengancam kapal dan para pelaut. Hanya melalui desakan pertanyaan mereka bisa tahu alasan ada badai, dan hanya melalui usaha keras yang tidak berhasil menyelamatkan Yunus baru mereka membuangnya keluar kapal. Para pelaut tidak seperti Yunus taat pada hal yang mereka lihat, dan kemudian memuji Tuhan. Pasal 2 menunjukan peristiwa dibawah laut, menggambarkan doa dan permohonan Yunus secara puisi. Dalam pasal 3, Yunus diperintahkan untuk kedua kalinya erseru pada Niniwe untuk bertobat, dan “merubah pikiran Tuhan.” Pasal 4 menunjukan perilaku Yunus tidak berubah. Disana, dia menjelaskan ketidaktaatannya dalam kata-kata yang tidak terpuji, menjelaskan kenap dia tidak mau berseru untuk orang Assyrians.

Selain bukti yang berlimpah yang berlawanan dengan konteks keseluruhan Yunus, sebagian orang mencari pertobatannya dalam pasal 2. Itu tidak bisa ditemukan. Kita mungkin tertipu dengan pengungkapan yang digunakan Yunus, yang sebagian besar diambil dari mazmur. Tapi ketika kita membandingkan teologi mazmur Yunus dengan Mazmur, kedangkalan dan rendahnya pujian Yunus sangat nyata.

Penekanan dan Pendekatan

Setelah mengkhotbahkan kitab Yunus 10 tahun lalu, saya menemukan pendekatan dan penekanan saya telah berubah. Sebelumnya, saya menghabiskan waktu mencoba melihat dokumen orang yang tertelan ikan yang bisa hidup untuk menjelaskannya. Secara singkat melihat tulisan itu memberitahukan kita bahwa hanya terdapat sedikit penekanan pada ikan besar disini, karena ikan taat pada perintah, sementara Yunus tidak. Sementara terobosan kitab ini ingin menunjukan ketidaktaatan Yunus dan bangsa Israel, ikan hanya diberi sedikit tempat dalam berita. Kita mungkin cenderung membahas tentang ikan untuk menolong membuktikan mujizat itu bisa terjadi. Kita mengesampingkan tujuan kita kalau kita melakukan itu. Jika ada dokumen mencontohkan manusia ditelan ikan bisa selamat, maka yang dijelaskan disini sulit dikatakan mujizat. Itu hanya salah satu peristiwa aneh yang muncul dari waktu ke waktu, tapi tidak ditempatkan dalam lingkungan supernatural.

Tidak juga dengan masalah apakah Yunus mati atau tidak menjadi focus mazmur ini. Benar bahwa permohonan Yunus merupakan bentuk dasar kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus, tapi apakah dia mati atau tidak bukan masalah utama disini. Secara pribadi, saya kira dia tidak mati. Saya percaya dia “seperti mati” sampai “diselamatkan” oleh ikan. Intinya, Yunus berkata, “saya seorang pelarian, tapi Tuhan mendengar doaku.”

Pendekatan saya dalam pelajaran ini adalah untuk menunjukan bahwa mazmur Yunus jauh dari Mazmur PL, dan menunjukan beberapa alasan kita cenderung melihat mazmur Yunus lebih rohani dari yang sebenarnya. Untuk itu kita akan memusatkan perhatian kita pada Mazmur PL untuk menunjukan perbedaannya. Kemudian kita mencoba mengaplikasikan pelajaran yang kita dapat dari mazmur Yunus itu ke Yunus sendiri dan Israel dan terakhir pada diri kita sendiri.

Struktur Yunus 2

Structure tulisan kita sebagai berikut:

1:17, 2:1

Pendahuluan: Penyelamatan Yunus dan bentuk mazmurnya

2:2-9

Mazmur Yunus

2:10

Konklusi: Yunus Keluar

Setting Mazmur

17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

mazmur Yunus adalah gambaran secara puisi keselamatanya dari tenggelam. Seekor ikan besar tidak hanya disuruh secara ilahi untuk keselamatan (1:17), tapi juga tempat dimana mazmur itu dibuat (2:1). Seseorang hanya bisa membayangkan pikiran Yunus saat hal itu terjadi. Saat dia tenggelam kebawa permukaan air, Yunus tahu dia akan tenggelam (2:2-7). Dalam saat terakhir kesadarannya, dia berteriak minta pertolongan Tuhan. Tiba-tiba, semuanya jadi hitam. Mungkin kegelapan karena ikan yang mendekat merasakan nabi itu. Kemudian ada perasaan terbawa sesuatu. Mungkin juga terasa seperti pengalaman mendekat kelahiran sewaktu melewati mulut ikan keperutnya, mungkin melalui pembukaan yang sangat kecil. Tidakan menyerap air dari paru-parunya, seperti pernafasan buatan.

Saat Yunus sadar kembali, bayangkan ketakutannya: merasa didalam perut ikan menekan dia; iritasi karena cairan perut mulai memutihkan kulitnya; bau yang tidak enak; melewati diet ikan; kegelapan tempat itu. Saat itu, Yunus menyadari bahwa ikan itu tidak dimaksud menghancurkannya tapi untuk menyelamatkannya. Doa minta tolongnya telah didengar Tuhan. Dia tetap hidup. Mazmurnya, ditulis dalam ayats 2-9, dibuat diperut ikan dan kemudian dituliskan bagi kita. Sekarang kita beralih keisi “masmur nabi yang tidak taat ini” untuk melihat apa yang kita bisa pelajari tentang Yunus, Israel, dan diri kita.

Mazmur Yunus dan Mazmur

Cara terbaik untuk mengerti mazmur Yunus adalah dengan menemukan karakteristik yang unik dan membandingkan hal itu dengan karakteristik Kitab Mazmur. Maksud perbandingan ini untuk menunjukan rendahnya mazmur Yunus. Perhatikan karakteristik mazmur Yunus:

(1) Mazmur Yunus menggunakan bentuk puisi kitab Mazmur, demikian juga dengan terminology yang digunakan.

Dalam Yunus 2:9 kita membaca, “Keselamatan dari Tuhan.”

Seperti dalam Mazmur Mazmur 3:8 kita membacar, “Keselamatan berasal dari Tuhan.”

Perhatikan juga kemiripan terminology antara Mazmur 18 dan Yunus 2:

Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya. (Mazmur 18:4-6).

“Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. . . . Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus” (Yunus 2:2, 7).

Dalam Mazmur 42, pemazmur juga menggunakan gambaran “air” yang mirip dengan apa yang kit abaca dalam mazmur Yunus:

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar. Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku. TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku. (Mazmur 42:5-8, emphasis mine).15

(2) Mazmur Yunus berfokus pada keselamatan fisik dari kematian karena tenggelam. Semua gambaran puisi yang ditemukan dalam mazmur Yunus berkaitan dengan pengalaman hampir matinya didalam laut. Dia dilingkupi oleh ombak besar (vv. 3, 5), dan lumut membalut dia (vs. 5). Yunus hampir mati ketika dia berseru pada Tuhan untuk diselamatkan (vv. 2, 4, 7). Permohonan ini mungkin mirip dengan Petrus ketika berjalan diatas air kearah Tuhan, tiba-tiba mulai tenggelam (cf. Matt. 14:22-33). Hanya ada sedikit waktu untuk berteriak minta tolong. Ikan besar diperintahkan Tuhan untuk menelan Yunus, sementara Yunus tidak menyebut ikannya, kita tahu itu menyediakan dia air dari surga selama 3 hari dan malam (1:17). Maka dari dalam perut ikan itulah mazmur ini dibuat oleh nabi ini (2:1). Seperti Saulus yang menjadi Paulus, tidak bisa melihat selama 3 hari untuk merenungkan injil (Kis 9:9), Yunus mendapat 3 hari untuk merenungkan keselamatan ilahinya. Itu belum selesai, karena ada masalah kecil untuk bisa keluar dari penjara bawah airnya.

(3) Mazmur Yunus berpusat pada diri sendiri. Yunus menggambarkan masalahnya, bahaya yang dialaminya, pertolongan yang dialaminya, dan kebahagiaannya. Dalam kitab Mazmur pemazmur juga menggambarkan pembebasan mereka, walaupun sebagian kecil sering tertinggal, atau hanya sedikit disebut, sering dalam pendahuluan Mazmur (cf. Mazmurs 3, 18). Sangat cepat pemazmur PL beralih dari pengalaman pribadi mereka kekarakter Tuhan, yang ditunjukan dalam menyelamatkan mereka. Singkatnya, mazmur ini berpusat pada Tuhan, sementara mazmur Yunus berpusat pada dirinya.

Perhatikan betapa terselubungnya gambaran pemazmur akan masalah dirinya, dan cepatnya perubahan focus kepada karakter Tuhannya:

Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: "Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!" TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. (Mazmur 116:3-5, emphasis mine).

Hal itu tidak ada dalam Yunus. Pasal 2 berisi detil masalah Yunus, sementara karakter Tuhan sangat sedikit disebut. Tidak sampai pasal 4 Yunus menyebut karakter Tuhan secara khusus anugrah, kasih saying, panjang sabar, dan belas kasih:

Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." (Yunus 4:2-3, emphasis mine).

Sementara pemazmur dalam Alkitab menunjukan karakter Tuhan sebagai dasar pujian, penyembahan, dan ketaatan mereka, Yunus menunjukan karakter Tuhan menjadi dalih ketidaktaatannya dan protesnya.

Hanya ada satu ayat dalam mazmur Yunus yang menunjukan atribut Tuhan. Yunus memang menunjukan doktrin kekuasaan Allah. Atribut ini disalah gunakan. Daripada menunjukan bahaya pemberontakannya, Yunus menggambarkan Tuhan sebagai sebab bahaya yang menimpanya:

“Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.” (Yunus 2:3).

Hal itu mirip dengan penjelasan Adam atas ketidaktaatannya:

"Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." (Gen. 3:12).

(4) Mazmur Yunus menunjukan pandangannya yang merendahkan non-Yahudi dan kesombongan diri sebagai orang Israel. Kita sudah mengetahui iman pelaut yang nonYahudi di pasal 1, dan ketaatan mereka. Dalam mazmur pujian Yunus, kita tidak menemukan pelaut disebutkan, keselamatan mereka dari kematian, atau iman yang baru dalam Allah Israel. Kita bisa dengan aman berasumsi bahwa Yunus tidak melihat itu sebagai sumber sukacita atau sebab untuk memuji Tuhan. Kita bisa lebih jauh menyimpulkan bahwa Yunus benar-benar membenci non Yahudi dan menginginkan kematian mereka daripada diselamatkan.

Ini mungkin hanya tebakan, yang ditunjukan dalam pasal 4, kecuali nada perkataan Yunus dalam ayats 8 dan 9: “Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; “(Yunus 2:8-9a). Yunus memiliki pandangan yang rendah terhadap orang nonYahudi, yang memuja berhala. Saat yang sama, dia menganggap dirinya khusus, yang menyembah Tuhan yang benar dalam pengertian korban yang Tuhan tunjukan. Yunus sebagai orang Israel lebih tinggi dari orang non Yahudi yang menyembah berhala.

Perkataan Yunus tidak sesuai dengan yang kita lihat dalam pasal 1. Penyembah berhala berdoa; Yunus tidak. Penyembah berhala ingin membuka dosa; Yunus tidak. Penyembah berhala mempraktekan agamanya; Yunus tidak. Penyembah berhala berbelas kasihan terhadap Yunus, tapi Yunus tidak sama sekali. Dengan standar apapun pelaut yang nonYahudi lebih tinggi dari Yunus dalam pasal 1, dan kemudian Yunus tanpa malu berkata pada Tuhan kalau dia lebih tinggi dari mereka

Pemazmur PL tahu lebih baik. Dalam mazmur mereka, mereka membicarakan pertobatan dan pujian nonYahudi:

Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah: kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel! Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.

Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia. Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya. Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa. (Ps. 22:22-28, emphasis mine).

Dalam Mazmur 67, pemazmur lebih jauh lagi menyatakan janji Tuhan pada Abraham, yaitu berkatnya akah memberkati seluruh dunia:

Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur. Nyanyian. Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, Sela supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Sela Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita. Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia! (Mazmur 67).

Yunus tidak ingin Tuhan memberkati nonYahudi seperti Yahudi. Yunus tidak ingin Tuhan memberkati nonYahudi melalui orang Yahudi. Maka dari itu ketika Tuhan memerintahkan Yunus, seorang Yahudi, untuk berseru diNiniwe, kota nonYahudi, Yunus kabur. Tidak mengherankan kalau kita tidak menemukan pujian karena nonYahudi bertobat, melainkan pernyataan pada Tuhan tentang superioritas Yahudi dati nonYahudi.

(5) Satu-satunya janji yang dibuat Yunus adalah membuat korban bakaran dibait Tuhan. Waktu yang lalu, saya membaca berkali-kali perkataan Yunus dalam ayat 9: “Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!" Saya merasakan perkataannya dalam ayat ini menunjukan kedaulatan Tuhan, dimana Dia bebas memerdekakan siapapun yang Dia pilih, dan Yunus berjanji taat pada perintah Tuhan keNiniwe.

Sekarang saya mengerti perkataan itu secara berbeda. Jika Yunus berjanji pergi keNiniwe, kenapa Tuhan perlu mengulang perintahNya untuk melakukan itu dalam ayat 1 pasal 3? Ketika Yunus berkata, “Keselamatan berasal dari Tuhan,” saya percaya dia hanya memuji Tuhan karena keselamatannya secara fisik. Dia sebenarnya berkata, “keselamatan yang telah saya gambarkan dalam mazmur tentang Tuhan.” Inti janji yang dimaksud Yunus dinyatakan dalam bagian pertama ayat 9. Yunus ingin pergi keYerusalem, dimana dia ingin membakar korban bakaran kepada Tuhan. Membuat korban bakaran umumnya dilakukan dalam janji (cf. Ps. 66:13-15), dan saya percaya itulah yang dimaksud Yunus disini, seperti yang dinyatakan dalam ayat 9 mazmur ini. Betapa senangnya Yunus meninggalkan perut ikan ketempat kering ditanah perjanjian, dimana dia bisa mengorbankan korban bakaran sebagai pujian dan terima kasih pada Tuhan.

(6) Mazmur Yunus tidak berisi pertobatan dan pengakuan dosa, walaupun dalam pasal 1 hal itu sangat diperlukan. Yunus harus mengakui itu, tapi dia tidak mengakuinya dalam mazmurnya. Bahkan ketika mengambarkan sebab bahaya yang menimpanya dalam ayat 3, dia tidak mengkaitkan dirinya dibuang kelaut karena dosanya, tapi karena Tuhan yang berkuasa! Berlawanan dengan mazmur Yunus, perhatikan pengakuan dosa dalam Kitab Mazmur:

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela (Mazmur 32:5).

Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. (Mazmur 51:1-4).

Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Dari Daud. Selamatkanlah aku, ya Allah, sebab air telah naik sampai ke leherku! Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu; aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku..…Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu. Janganlah mendapat malu oleh karena aku orang-orang yang menantikan Engkau, ya Tuhan, ALLAH semesta alam! Janganlah kena noda oleh karena aku orang-orang yang mencari Engkau, ya Allah Israel!, … Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia! Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari orang-orang yang membenci aku, dan dari air yang dalam! Janganlah gelombang air menghanyutkan aku, atau tubir menelan aku, atau sumur menutup mulutnya di atasku. (Mazmur 69:1-2, 5-6, 13-15).

Sementara Yunus dengan cepat mengutuk penyembahan berhala nonYahudi (Yunus 2:8), Yunus gagal mengenali kalau ketidaktaatannya dihadapan Tuhan sama dengan penyembahan berhala nonYahudi. Yunus akan berlaku benar jika memperhatikan peringatan mazmur ini:

Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum? Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Sela Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: "Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? (Mazmur 50:13-17).

Disini, Tuhan menunjukan bahwa bentuk agama dan ritual (seperti mazmur Yunus) hanya bernilai jika seseorang mentaati perintahNya. Perkataan dalam mazmur ini, Yunus telah “mengesampingkan Firman Tuhan.” Yunus telah tidak taat pada perintah Tuhan keNiniwe. Kenapa, kemudian mazmur ini atau janji korban bisa bernilai bagi Tuhan?

Yunus seharusnya mengingat perkataan Samuel pada Raja Saul, yang tidak taat pada perintah Tuhan:

Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja." (1 Samuel 15:22-23, emphasis mine).

Kita telah sampai kemasalah dasar. Mazmur Yunus tidak menunjukan perubahan hati, atau pertobatan nabi itu. Hanya pengungkapan dosa pembenaran diri. Itu hanya rasa terima kasih diselamatkan dari kematian secara fisik.

KEMUDIAN, KENAPA, TUHAN MENYELAMATKAN YUNUS DARI KEMATIAN MELALUI “IKAN BESAR” JIKA PERILAKU YUNUS TERHADAP TUHAN TIDAK BERUBAH? Menurut saya ada beberapa alasan:

(1) Tuhan menunjukan anugrah bagi Yunus, seperti yang ditunjukanNya pada para pelaut, dan orang diNiniwe.

(2) Tuhan mencoba memerintahkan Yunus, untuk mengubah perilakunya dengan menunjukan anugrahNya. Suatu pengalaman pribadi akan anugrah Tuhan mungkin bisa menyebabkan Yunus memuji Tuhan karena memberikan juga pada yang lain termasuk Assyrians.

(3) Tuhan membiarkan Yunus hidup agar dia bisa dan mau pergi keNiniwe berseru atas dosa kota itu. Tuhan menjamin Yunus akan mentaati perintahNya.

KENAPA KITA SANGAT CEPAT BERASUMSI YUNUS TELAH BERTOBAT, DALAM MAZMUR INI?

(1) Menurut saya kita terlalu cepat mengambil kesimpulan hanya berdasar atas tampak luarnya saja. Yunus seorang Israel, nabi, tidak lebih. Pasti seorang nabi adalah seorang yang punya kerohanian. Perkataan ini mirip dengan mazmur PL, jadi kerohanian mereka seharusnya mendalam. Kita harus mengenal lebih baik daripada hanya melihat luarnya saja

(2) Kita sangat ingin melihat Yunus bertobat. Kita tidak bisa melihat seorang nabi sekeras kepala, pendosa yang memberontak, yang berpusat pada diri serta tidak bertobat. Kita tidak bisa memikirkan seorang nabi berdosa. Kita ingin cerita berakhir menyenangkan, dan memberikan kita perasaan enak. Kitab ini tidak ditulis untuk menghibur, tapi untuk menghakimi. Ini tidak ditulis untuk membuat kita merasa baik, tapi membuat kita tidak nyaman dan risau. Kitab ini ditulis untuk mengajarkan kita kebenaran yang tidak menyenangkan tentang bangsa Israel, dan diri kita.

Pelajaran dari Pasal Ini

Selain kenyataan yang tidak menyenangkan dari pemberontakan Yunus dalam pasal ini – karena ada pelajaran penting yang bisa didapat dari pasal ini. Sebelum ditutup, mari kita memperhatikan pelajaran bagi Israel, dan bagi gereja.

Pelajaran bagi Israel

Seperti yang telah kita lihat, Yunus tidak hanya seorang nabi yang dilihat dari pernyataannya, tapi juga perbuatannya, terutama ketidaktaatannya. Yunus menggambarkan keras kepala dan pemberontakan umat Tuhan, Israel. Seperti Yunus tidak taat perintah Tuhan, demikian juga dengan bangsa Israel. Seperti Yunus menolak menjalankan tugasnya berseru kepada nonYahudi demikian juga dengan Israel. Seperti Yunus dipanggil untuk keselamatan, tapi tanpa pertobatan yang murni, demikian juga Israel. Seperti Yunus kelihatannya benar, bentuk dan pengertiannya benar, tapi kurang kebenaran yang sungguh-sungguh, demikian juga Israel.

Guru dan Farisi masa Yesus menunjukan kekerasan dan pemberontakan yang sama. Ketika Dia datang, menyapu selubung keyahudian. Yesus membuka selubung dan mengutuk kesombongan diri dan kemunafikan pemimpin Israel, seperti yang dilakuakn Kitab Yunus dengan nabi yang nakal ini.

Guru dan Farisi sangat teliti terhadap bentuk agama dan ibadah (hal kecil yang mereka tekankan), tapi mereka melupakan inti kerohanian yang benar—ketaatan (“unta” mereka telan). Seperti Yunus mempermainkan pemikiran pertobatan dan pengampunan terhadap Assyrians, demikian juga dengan Farisi yang merasa benar sendiri seperti yang dinyatakan oleh kakak (Luke 15:11-32). Mereka protes melihat Yesus bersama dengan “orang berdosa” dan tidak dengan mereka (cf. Mark 2:16). Demikian juga dengan kesombongan Yunus melihat dirinya benar, sementara nonYahudi berdosa (Yunus 2:8-9), sama dengan Farisi yang memandang rendah kerohanian yang lain:

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luke 18:11-14).

Penolakan Kristus dan injil oleh orang Yahudi membuktikan alasan keselamatan nonYahudi, seperti ketidaktaatan Yunus membawa keselamatan bagi para pelaut dan Assyrians:

Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. (Rom. 11:11-12).

Jika bukan karena ketaatan mereka, Tuhan memenuhi janjinya memberkati semua bangsa melalui Israel.

Pelajaran bagi Orang Kristen Sekarang

Sebelum menunjukan kesamaan dosa Yunus dengan orang percaya sekarang, biarkan saya menunjukan perbedaan penting antara pemikiran Yunus dengan kita sekarang. Yunus berpikir dalam cara pandang orang Yahudi PL, didasarkan atas pemilihan Israel, gagal melihat hubungannya dengan Tuhan semata anugrah, tapi melihat ada nilai didalamnya, atas dasar ras dan panggilannya sebagai nabi. Sekarang kita cenderung menyalahgunakan anugrah Tuhan, Kita menggunakan anugrah Tuhan sebagai alasan ketidaktaatan kita. Yunus tidak melihat dirinya berdosa lebih daripada orang nonYahudi; kita sebaliknya melihat diri kita jahat, dan mengakuinya sebagai bagian dari kondisi manusia, tapi kita melihat Tuhan bertanggung jawab mengampuni. Hal umum, sekarang dan kemudian, adalah melihat Tuhan bertanggung jawab memberkatai, “umatNya” walaupun mereka berontak, dan melihat dosa “nonYahudi” lebih buruk dihadapan Tuhan daripada “dosa suci” seperti ketidaktaatan.

Mazmur Yunus memperingatkan kita bahaya kerohanian yang dangkal. Kenyataan bahwa mazmur Yunus diambil secara serius oleh para sarjana dan orang awam memperingatkan kita bahwa kita tidak sensitive terhadap kerohanian yang dangkal. Gereja di Sardis, dalam Wahyu, memiliki kerohanian yang dangkal: “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! ” (Rev. 3:1b).

Kerohanian yang dangkal sangat ahli mengikuti bentuk keagamaan dan dalam menggunakan kesalehan. Karena itu, terlihat suci dan baik. Tapi sedikit penyelidikan bisa mengungkapkan karakternya sebenarnya. Menurut saya sedikit penindasan atau penderitaan akan bisa menunjukan kenyataan kerohanian seseorang.

Saya kuatir dengan kerohanian yang dangkal di Amerika, Saya takut itu ada dalam hidup saya dan gereja kita. Biarlah Tuhan memberikan kita anugrah untuk melihat hal itu dan bagaimana menghadapinya.

Kerohanian yang dangkal memiliki gejala tertentu. Salah satunya, bergantung pada hal yang salah. Bergantung pada latar belakang seseorang, keturunan, warisan, posisi (sebagai tua-tua gereja,dll) atau pengetahuan seseorang. Tidak ada satupun dari hal itu menambah kerohanian. Sebagian besar menggunakannya untuk memalsukannya.

Kerohanian yang dangkal sangat bergantung pada bentuk. Meminjam banyak dari yang lain; meniru daripada melakukannya. Kerohanian yang dangkal hanya berdoa pada saat yang paling buruk; dimotivasi oleh krisis, dan ditunjukan dengan doa yang terlihat. Berorientasi pada diri, daripada Tuhan atau orang lain. Terlihat peka terhadap dosa pribadi, sebenarnya melihat dosa itu dalam diri orang lain. Kedalaman hubungan dengan Tuhan yang kurang dan semangat penginjilan yang kecil. Memiliki sedikit kepedulian, dan umumnya fokusnya sangat sempit (seperti, Tuhan berkati pelayanan kami) Cenderung menyalahgunakan doktrin dan menyetujui atau membuat alasan untuk dosa yang diperbuat (seperti Yunus menggunakan kekuasaan Tuhan untuk menyelubungi dosanya).

Penyelamatan Yunus mengingatkan kita bahwa cara Tuhan menyelamatkan kita bukan pilihan kita. Tuhan tidak menyelamatkan kita atas suatu hal yang disukai, tapi menurut syarat Tuhan. Ikan besar bukan pilihan Yunus sebagai akomodasi, tapi walaupun tidak enak ada sesuatu diperutnya, dia tetap melakukan tugasnya. Yunus lebih suka adanya suatu pencarian yang dramatis melibatkan penjaga pantai, helicopter, dan penyelam. Dia mungkin lebih memilih dinaikan keatas kapal dan diberikan pernafasan mulut oleh pelaut wanita yang cantik. Tuhan tidak memuji Yunus dengan menyelamatkannya karena kesombongan merupakan salah satu masalah prinsip nabiNya.

Demikian juga Tuhan tidak menyelamatkan manusia untuk menyanjung. Menghabiskan 400 tahun sebagai budak di Mesir bukan sanjungan bagi orang Israel, juga menyebrangi laut merah atau sungai Yordan, atau membunuh binatang dan menumpahkan darahnya diatas altar Tuhan, tapi ini terjadi atas penyediaan Tuhan. Melihat ular tembaga agar sembuh dari gigitan ular tidak membanggakan, tapi itulah cara Tuhan. Percaya pada kematian, penguburan, dan kebangkitan raja yang ditolak, Tuhan Yesus Kristus, bukan cara yang dipilih manusia dalam mendapatkan pengampunan dosa dan hidup kekal. Tapi ini juga cara Tuhan memberikan hidup kekal pada manusia. Hanya cara ini. Jika anda belum mengalami keselamatanNya, anda akan dibawa kebawah, sangat rendah seperti Yunus, sehingga keselamatan dengan senang diterima.

Biarlah Tuhan menjaga kita dari kerohanian tiruan dan dangkal seperti mazmur Yunus, dan membawa kita kepada kerohanian yang murni dalam Kitab Mazmur.


14 Theodore Laetsch, The Minor Prophets (St. Louis: Concordia Publishing House, 1956), p. 228.

15 Juga bandingkan dengan Mazmur 88:6-7, 17, dimana pemazmur menggunakan istilah “banjir”, tapi disini kesulitan pemazmur dibawa kehadapan Tuhan bukan manusia.

Taxonomy upgrade extras: 
Passage: 
Biblical Topics: 
Ad Category: