Where the world comes to study the Bible

Kekudusan Ala Wesley & Keswick

Related Media

Translated by Berens

I. Pendahuluan

Banyak orang Kristen injili yang ada sekarang ini dalam beberapa hal patut berterimakasih kepada John Wesley dan pada pemahaman teologisnya tentang kehidupan Kristen, khususnya tentang Penyucian (Sanctification). Pengikut ajaran Wesley, sejumlah ajaran teologi tentang Kekudusan (Holiness Theology), Keswick, Hidup yang Lebih Dalam (Deeper Life), Hidup yang Lebih Tinggi (Higher life), ajaran tentang Hidup yang Berkemenangan (Victorious Life), semuanya didasarkan pada ajaran Wesley tentang kehidupan Kristen (Christian life).

II. Wesley dan Wesleyanisme

A. Wesley & Penyucian

Dalam ajaran teologi John Wesley kita mendapati adanya satu arah baru yang berbeda dengan ajaran Pembaharuan (Reformed) juga yang berbeda dengan Armenianisme klasik. Wesley membangun pemahamannya tentang hakekat manusia seutuhnya atas dasar ajaran Reformasi tentang dosa asal (original sin), dan pentingnya kasih karunia yang tidak berkesudahan terhadap keselamatan (salvation). Akan tetapi ia memisahkan diri dari ajaran para reformator dan menyuntikan ajaran tentang kasih karunia yang berbeda ke dalam pemahamannya tentang keselamatan, dimana menurutnya semua orang telah menerima Roh Kudus berkemampuan untuk memberi respon kepada Allah. Wesley menolak konsep kaum Pembaharuan mengenai pilihan (election). Jadi ia menggabungkan ajaran kaum Pembaharuan tentang keberdosaan manusia secara total dengan keutamaan kasih karunia dari Armineanisme yang membela kehendak bebas manusia (human freedom), dan kewajiban moral. Akan tetapi ajarannya tentang kekudusan berbeda dengan ajaran Armenianisme tradisional. Wesley juga sangat dipengaruhi oleh ajaran yang bersifat mistis. Packer menilai bahwa ia telah menggabungkan

“Augustinianisme dari buku doa gereja Anglican dengan ajaran moral Gereja Tinggi (High Church) yang mengilhami konsepnya tentang kesempurnaan ...yang ia pelajari dari sumber-sumber dari para Bapak Gereja Yunani. Diantara mereka adalah “Macarius si orang Mesir” . . . dan Ephraem Syrus. Sebenarnya ajaran mereka bukan mengenai ketidakberdosaan (sinlessness), melainkan tentang satu proses pendalaman yang terus-menerus dalam perubahan moral. Dari ajaran ini kemudian Wesley menambahkan ajaran yang ia pelajari dari orang-orang yang ia sebut “pengarang-pengarang mistis” (dimana didalamnya termasuk William Law dari gereja Anglican, Molinos dari gereja Roma Katolik, Fenelon, Gaston de Renty, Francis de Sales, dan Madame Guyon, Francke dari gereja Luteran Pietist, dan para tokoh Theologia Gremanica pre-reformasi). Ia mengajarkan bahwa keinginan hidup saleh yang sejati merupakan satu kekuatan rohani untuk mengasihi Allah dan manusia; tanpa ini semua agama adalah dangkal dan kosong. (Keep In Step with the Spirit,134)

Wesley menegaskan bahwa keutamaan pembenaran (justification), dan kepastian jaminan orang percaya bisa didasarkan pada kebenaran Kristus. Akan tetapi, pandangannya tentang pilihan yang bersifat Arminian mempengaruhi pemahamannya tentang keselamatan. Ia melihat proses Penyucian (Sanctification) sebagai satu proses yang menentukan seseorang layak memperoleh keselamatan akhir. Proses ini adalah perbuatan Tuhan, tapi juga adalah perbuatan manusia. Nampaknya disini terjadi satu sinergi. Pada satu bagian ia mengatakan bahwa perbuatan baik manusia adalah satu syarat bagi pembenaran akhir yang ia anggap perlu untuk memperoleh keselamatan akhir (Lindstrom, 207)

B. Perkembangan dalam Ajaran Wesley

Sejak ajaran Wesley masuk ke Amerika, ajarannya terinstitusionalisasi lewat para pemimpin gereja dan lewat kebangunan rohani. Ini mengakibatkan ajarannya menjadi kuat. Bahkan sejak 1784 Francis Asbury telah mempopulerkan khotbah mengenai pengalaman penyucian menyeluruh sebagai yang harus diharapkan orang percaya selekas mungkin dengan iman. Banyak kebangunan rohani mereka menekankan satu titik balik penting dalam kehidupan Kristen. Banyak khotbah mereka mengenai kekudusan cenderung berpusat pada ajaran Wesley tentang penyucian dalam pengalaman krisis ke-dua (second crisis) setelah pembenaran yang lebih dikenal dengan “penyucian sepenuhnya” (entire sanctification). Atas dasar ini, mereka yang telah mengalaminya memiliki kewajiban untuk mengakuinya dan berusaha untuk membawa orang lain ke dalam pengalaman yang sama.

Seiring dengan makin dihargainya ajaran Methodis, ada kerinduan untuk kembali pada ajaran Wesley yang mula-mula. Pada akhir abad 19 Asosiasi Kekudusan Nasional (National Holiness Association) terbentuk untuk mempromosikan teologi kekudusan berdasarkan ajaran Wesley. Tiga nama besar dalam menyebarkan teologi kekudusan ini adalah: Phobe Palmer; William Boardman; dan Hannah Whitehall Smith.

Phobe Palmer mengemukakan penekanan yang menjadi kunci gerakan ini. Meskipun ia tidak mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan Wesley seabad sebelumnya, ia mengubah pokok penekanan ajaran Wesley, dan menyuntikan pemikiran-pemikiran asing bagi ajaran Wesley mula-mula. Bagi Wesley pengalaman dalam kepenuhan rohani (perfection) adalah sesuatu yang harus yang dirindukan, sedangkan bagi Palmer ini adalah hal penting untuk mempertahankan keselamatan. Kepenuhan rohani adalah awal bagi kehidupan dan pertumbuhan dalam ke-Kristen-an dan yang harus diutamakan dalam kehidupan. Fokus kepenuhan ini cenderung didasarkan sepenuhnya pada satu komitmen sungguh-sungguh, dan bukan merupakan satu proses tahap demi tahap yang lambat. “Jadi dalam kematian atas diri dan kelahiran untuk mengasihi sesungguhnya menjadi tujuan—satu tujuan dan bukan satu elemen penting dalam pembentukan satu hubungan dalam kebebasan dan kasih dalam hati orang percaya saat Roh Kudus memimpin orang percaya di atas kasih karunia dalam kehendak Allah (Dieter, 41).

C. Kunci Kepercayaan

Karya Kasih Karunia Kedua (Second Work Of Grace).

Bagi para pendukung gerakan kekudusan secara khusus karya kasih karunia kedua menjadi penting untuk mempertahankan keselamatan seseorang. Palmer secara khusus melihat pembenaran (justification) sebagai hal yang tidak terpisah dari kesetiaan orang percaya. Ia menyatakan:

“Dalam perjalanan saya menuju surga, cahaya yang lebih terang menyinari pikiran saya, mengungkapkan pelayanan-pelayanan yang lebih tinggi, yang menuntut roh pengorbanan, akan tetapi juga ujian iman yang lebih kuat. Tetapi dengan bertambahnya terang, kekuatan yang diberikan menjadi semakin besar, yang memampukan saya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang lebih tinggi: karena saya tidak perlu belajar bagaimana menjaga justification saya dibawah penghakiman sementara pada saat yang sama mengabaikan kewajiban-kewajiban yang saya ketahui.”

Bagi Palmer solusinya terletak pada sanctification, yang dilihat sebagai satu krisis sesudah percaya (conversion). Ia menamakan ini satu krisis karena baginya ini adalah mengenai hilang tidaknya justification. Lebih lanjut ia berkata:

“Saya menyadari saya tidak bisa; saya harus melakukan pengorbanan yang sesuai, atau saya harus berdosa, dan dengan dosa saya justification hilang. Dan disini pembenaran yang saya miliki akan berakhir jika saya menolak untuk menjadi suci.”

Jadi, second work of grace sungguh adalah dasar untuk kelanjutan keselamatan seseorang.

Cara untuk memperoleh karya kasih karunia yang kedua ini dianggap sebagai satu tindakan iman yang mirip dengan tindakan iman yang diperlukan untuk justification. William Boardman menulis:

“Baik persoalannya berkaitan dengan justification atau sanctification, jawabannya adalah sama. Jalan mendapatkan kebebasan dosa sama dengan jalan mendapatkan kebebasan dari penghakiman. . . yaitu iman dalam kehadiran Yesus yang memurnikan.” (Higher Christian Life, 81)

Pemikiran yang sama masih dipertahankan sampai sekarang. Pada musim Semi 1986 saya menghadiri satu Sanctification Conference yang disponsori C&MA di Piedmont California. Pembicara utamanya, yang adalah presiden denominasinya memulai khotbah pertamanya dengan berkata, “Ada dua injil, injil justification adalah untuk orang berdosa, sedangkan injil sanctification untuk orang kudus.” Justification dilihat sebagai yang menghindarkan seseorang dari hukuman dosa, sedangkan sanctification dilihat sebagai pembebasan dari kuasa dosa.

Bagi Boardman, karya kasih karunia ini merupakan satu penambahan unsur mistis ke dalam satu proses:

“Dalam yang pertama, penebusan terjadi, dan saat itu diterima, maka pengampunan diberikan; dalam yang kedua, meski kebenaran Kristus adalah sempurna untuk dikenakan, akan tetapi dalam mencapainya...diperlukan waktu dan kemajuan.” (40)

Hannah Whitehall Smith mengemukanakan dasar pengajaran teologi kekudusan (holiness theology) dengan memisahkan justification dari sanctification. Sumbangan yang diberikannya tidak bisa lepas dari latarbelakangnya sebagai anggota aliran Quaker dimana ia menyuntikan satu unsur keheningan ke dalam prosesnya. Ia melihat prosesnya sebagai satu penyerahan penuh kepada Tuhan, dan keyakinan sempurna kepadaNya. Ia melihat 3 tahap dalam prosesnya:

(1) Orang Kristen harus menyadari karunia dari Tuhan.

“Oleh sebab itu, untuk bisa masuk ke dalam satu pengalaman kehidupan batin secara praktis, jiwa harus bersikap menerima, sepenuhnya menyadari bahwa itu adalah pemberian Tuhan dalam Yesus Kristus.” (The Christian’s Secret of a Happy Life, 47)

(2) Pentingnya Pengudusan (Consecration)

Ia mengatakan bahwa jiwa harus dilepaskan (abandon) kepada Tuhan dan tergeletak pasif di tanganNya (47) “Kata ‘pelepasan’ lebih tepat pengertiannya dibandingkan kata pengudusan. Akan tetapi apapun kata yang digunakan, yang kita maksudkan disini adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan—roh, jiwa dan tubuh diletakkan dibawah kendaliNya yang mutlak, supaya Ia melakukan dalam diri kita seturut kehendakNya.”

(3) Iman menyertai penyerahan

“Kasih bisa kita terima secara berlimpah, namun sebelum kita yakin kita dikasihi, maka kasih tidak akan pernah kita rasakan” (51). Ia menyimpulkan: “Untuk masuk ke dalam kehidupan batin yang diberkati dengan kelegaan dan kemenangan ini, Anda harus melakukan dua hal—pertama pelepasan menyeluruh; dan kedua iman absolut. (52-54)

Meski teologi kekudusan berupa-rupa dan memiliki penekanan yang beragam, semuanya secara tegas memisahkan (1) justification, yang diperoleh dengan iman yang menghasilkan pengampunan dosa dari (2) sanctification/krisis/second work of grace/baptisan roh sebagai satu pengalaman setelah seseorang percaya yang mengakibatkan hancurnya kuasa dosa.

Ketidakberdosaan (Sinlessness):

Dalam pikiran Wesley dosa itu dilakukan secara sengaja/sadar (primarily voluntary) dengan demikian secara erat terkait dengan kehendak. Dalam khotbahnya tentang Yohanes 3:9 tentang kemungkinan kesempatan ketidakberdosaan, ia mendefinisikan dosa sebagai perilaku yang semata-mata disengaja dilakukan secara sadar.

Dosa saya pahami sebagai dosa yang keluar (outward sin), seperti yang dipahami dunia secara sederhana; yaitu perbuatan melanggar hukum Allah secara nyata dan sukarela; dan yang melanggar setiap perintah Allah yang dinamakan dosa.

Pada kesempatan lain mengenai hakekat dosa ia mengatakan:

Tidak hanya yang dikenal dengan dosa langsung (yaitu pelanggaran hukum yang diketahui secara sengaja) tapi juga dosa yang dikenal dengan dosa tidak langsung (yaitu pelanggaran hukum yang diketahui maupun yang tidak dengan tanpa sengaja) perlu dibasuh oleh darah yang diurapi.

Saya yakin tidak ada kesempurnaan dalam hidup ini tanpa dosa yang tidak disengaja yang saya anggap sebagai akibat wajar dari ketidaktahuan dan kesalahan yang tidak bisa dipisahkan dari moralitas.

Oleh sebab itu saya tidak pernah menggunakan istilah kesempurnaan tanpa dosa, karena kalau saya menggunakannya maka saya akan menipu diri saya.

Saya yakin orang yang dipenuhi oleh kasih Tuhan masih memiliki kemungkinan untuk melakukan pelanggaran yang tidak disengaja.

Pelanggaran seperti ini bisa Anda sebut dosa, jika Anda menginginkannya: saya tidak menganggapnya demikian karena alasan-alasan yang disebutkan diatas. (Works: “A Plain Account of Christian Perfection,” 19 (XI, 396)

Ajaran dosa Wesley “menekankan kehendak atau dimensi rohani dari dosa lebih dari sekedar aspek dosa yang nampak (moral) atau cognitif (pengetahuan teoritis). Ketidakberdosaan dalam konteks ini lebih menyerupai keinginan melakukan kehendak Tuhan dan bukan usaha meniru pengetahuan, tindakan, atau kekudusan Allah yang sempurna; dosa lebih menyerupai pemberontakan yang disadari dan dikehendaki atas kehendak Tuhan dan bukan satu kegagalan atau kurangnya kesetaraan dengan kemuliaan Allah.” (John Tyson, Charles Wesley on Sanctification (Grand Rapids: Zondervan, 1986) 257.)

Kesempurnaan Orang Kristen (Christian Perfection):

John Wesley melihat Christian perfection bisa dimiliki semua orang percaya dalam hidup ini sebagai satu pemberian Tuhan dan harus diperoleh pada saat sekarang

Christian Perfection adalah kasih kepada Tuhan dan sesama yang merupakan pembebasan atas segala dosa.

  • Ini hanya bisa diterima dengan iman
  • Ini diberikan dengan instan pada saat sekarang
  • Kita harus mengharapkannya, bukan pada kematian, namun kapan saja; bahwa sekarang adalah saat yang tepat, hari ini adalah hari keselamatan itu.

John Wesley dengan tegar membela perfection/sanctification yang menurutnya bersifat instan. Namun saudaranya Charles yang mempopulerkannya.

Wesley memberikan sepuluh prinsip mengenai perfection dalam bentuk kemajuan-krisis-kemajuan (progress-crisis-progress) sebagai model bagi perfection Kristen. Dari prinsip-prinsip itu bisa dilihat dengan jelas bahwa Wesley tidak memahami istilah teleios dalam pengertian kedewasaan (BAG,187) akan tetapi ia memahaminya dengan menggunakan pemahamannya sendiri tentang ketidakberdosaan.

  • Perfection itu ada: karena Alkitab menyebutkannya berulang kali.
  • Perfection didahului oleh justification: karena orang yang telah dibenarkan harus “beralih pada perkembangannya yang penuh.” (Ibrani 6:1)
  • Perfection bukan setelah kematian; karena Paulus menyebutkan tentang kehidupan orang-orang yang sempurna (Filipi 3:15)
  • Perfection tidak bersifat absolut. Tidak ada yang telah memiliki perfection secara absolut, malaikat pun tidak, kecuali Tuhan.
  • Perfection tidak berarti seseorang tidak lagi memiliki kesalahan: Tidak ada yang tidak bersalah selama masih dalam tubuh jasmani.
  • Apakah perfection berarti keadaan tanpa dosa (sinless)? Bukan itu istilah yang tepat. Perfection adalah ‘keselamatan atas dosa.’
  • Perfection adalah ‘kasih yang sempurna’ (perfect love). (I Yohanes 4:18) Ini yang terpenting; ciri-cirinya, atau buah-buahnya yang tidak terpisahkan, adalah bersukacita selalu, berdoa tanpa henti, dan dalam segala hal mengucap syukur. (I Tesalonika 5:16, dsb.)
  • Perfection terus diperbaharui (improvable). Tidak ada kata statis dan tidak bisa berkembang. Seseorang yang memiliki kasih sempurna mengalami pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan yang sebelumnya.
  • Perfection bisa gagal (amissible), bisa hilang; dimana kita memiliki banyak contoh. Namun kita tidak bisa memastikannya hingga lima atau enam tahun setelah itu.
  • Perfection terus-menerus didahului dan diikuti oleh perbuatan baik secara perlahan. (WORKS: “A Plain Account of Christian Perfection,” 25 (XI, 441-42)).

Seperti dalam kutipan diatas, bagi Wesley perfection tidak sama dengan kedewasaan, melainkan disamakan dengan ketidakberdosaan (yaitu dalam pelanggaran yang tidak disengaja), atau disamakan dengan kasih. Pada kesempatann lain ia menyamakan perfection dengan “kasih sempurna” (perfect love). “Saya mengharapkan Anda semua berada dalam kasih. Inilah perfection yang saya yakini dan ajarkan.” Ia dengan hati-hati tidak menempatkan perfection terlalu tinggi, mengingat bahayanya “perfection tingkat tinggi (high-strained perfection)” yang menurutnya akan mengarah pada ketidakberesan mental. High-strained perfection (“yang begitu tinggi sehingga tidak seorangpun yang akhirnya bisa mencapainya”) akan mengakibatkan terjadinya kecenderungan perfection Kristen yang tidak relevan lagi dengan dunia ini.

Sanctification Penuh:

Sanctification penuh adalah “satu karya Tuhan yang personal dan definitif dalam kasih karunia yang menyucikan dimana peperangan dalam diri manusia lenyap dan hati mendapat kelegaan penuh dari pemberontakan kedalam kasih sejati kepada Tuhan dan sesama.” (Dieter, 17) Pengalaman ini memiliki keuntungan yang positif dan negatif. Secara negatif, karena berbentuk penyucian hati, yang memulihkan kerusakan sistem yang masih tersisa dari kesalahan yang diakibatkan Adam. Secara positif, karena merupakan satu kebebasan, “perpalingan hati sepenuhnya kepada Allah dalam kasih dan dalam mengetahui kehendakNya, yang merupakan kerinduan jiwa.” (Dieter, 18) Wesley mendaftarkan keuntungan-keuntungan dalam sanctification:

  • Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri;
  • Memiliki pikiran Kristus;
  • Menghasilkan buah Roh (sesuai Galatia 5);
  • Pemulihan gambar Allah dalam jiwa seseorang, suatu pemulihan manusia menjadi sesuai dengan gambar moral dari Tuhan, yang berisi kebenaran dan kekudusan”. Kebenaran yang terdapat dalam batin dan yang bisa dilihat dari luar, berupa “kekudusan hidup yang sungguh-sungguh”;
  • Penyucian Tuhan atas roh, jiwa dan tubuh seseorang; Pengudusan seseorang secara sempurna bagi Tuhan;
  • Satu penyataan pikiran, perkatan dan tindakan seseorang yang terus-menerus lewat Yesus sebagai korban sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan;
  • Keselamatan atas segala dosa. (khotbah Wesley, tentang “Perfection”, Works 6, 413-15.)

D. Landasan Alkitab

Ajaran Wesley mengajarkan bahwa mereka memahami Alkitab secara holistik dan tidak bergantung pada bukti alkitabiah (proof-texts) dalam hal doktrin, dan pengajaran Alkitab secara holistik ini memberi dukungan untuk doktrin mereka tentang Sanctification. Akan tetapi, ada beberapa ayat yang dikaitkan dengan pemahaman mereka tentang hakekat sanctification. Diantaranya adalah:

Ulangan 30:6

Yehezkiel 35:-26, 29

Matius 5:8, 48; 6;10

Roma 2:29

Roma 12:1-2 karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Phoebe Palmer sebagai salah satu pemimpin kebangunan rohani Wesleyanisme pada akhir abad 19th memberi eksposisi kekudusan khusus untuk ayat ini, dengan meletakannya di altar (Keluaran 29:37). Menurut Palmer, Kristus adalah altar bagi orang percaya. Karena menurut Keluaran apapun yang menyentuh altar suci menjadi suci, maka setiap orang Kristen yang rela dengan iman mempersembahkan dirinya yang hidup di atas altar karya Kristus yang sempurna akan sepenuhnya disucikan dan dibasuh dari segala dosanya. (Dieter, 39)

2 Kor 3:17-18; 7:1

Gal 2:20

Efesus 3:14-29; 5:27

Filipi 3:15

1 Tes. 5:23

Titus 2:11-14;

Ibrani 6:1; 7:25; 10:14

Yohanes 8:34-36;

Yohanes 17:20-23:

Dalam memberi komentar tentang Yohanes 17, Mildred Wynkoop melihat kesamaannya dengan Efesus 4:

Yesus menyadari orang-orang percaya ada dalam satu tubuh yang bersatu.

Yang akan membawa kemuliaan bagi Dia.

Ia mati untuk menyucikan mereka. Semua unsur keselamatan termasuk disini kecuali yang bersifat insidentil.

Sanctification terjadi pada perkataan/firman dan kebenaran. “Perkataan” atau firman yang dimaksud jelas tidak mesti adalah Alkitab, tetapi diperoleh dari persekutuan dengan Firman, yang adalah Kebenaran itu sendiri.

Amanat ini diikuti oleh kesesuaian moral—karena kesatuan roh yang tersirat dalam kedua pasal ini menyucikan moral (Wynkoop Theology of Love, 320, dikuti oleh Dieter, 32).

1 Yohanes 1:5

1 Yohanes 7-9

1 Yohanes 2:6

1 Yohanes 3:3

1 Yohanes 3:8-10

Dalam mengomentari pasal ini Wesley mendasarkan keseluruhan pemikirannya atas definisinya sendiri tentang dosa sebagai pelanggaran yang disengaja (lihat penjelasan diatas), Yakobus 1:4

E. Kritik

Pembenaran Istilah:

Kaum Pembaharuan (Reformed) selama berabad-abad menugaskan Wesley untuk mempertanggunjawabkan ajarannya tentang keadaan yang sama sekali tanpa dosa (sinless perfection). Meskipun anggapan ini tidak terlalu benar, karena alasan-alasan diatas, Wesley sendiri harus meyalahkan dirinya sendiri karena usahanya untuk mendefinisakan kemabali istilah-istilah yang ia angkat. Packer menulis:

Pasti memusingkan bagi Wesley untuk menyebut perfection sebagai satu keadaan yang pada banyak hal sebenarnya adalah satu ketidaksempurnaan yang terus-menerus (continued imperfection). Lebih membingungkan lagi karena ia mendefinisikan dosa secara subjektif seperti yang dikenal sebagai “pelanggaran satu hukum secara sengaja,” dan bukan dianggap secara objektif sebagai satu kegagalan dalam standart Allah baik karena dilakukan secara sengaja maupun secara tidak sengaja. Sungguh sangat membingungkan ketika ia menyebutkan bahwa orang yang sudah disucikan berada dalam satu keadaan tanpa dosa (karena mereka tidak sadar telah melanggar hukum yang diketahui) sementara pada saat yang sama ia menegaskan bahwa mereka membutuhkan darah Kristus setiap saat untuk menutupi pelanggaran mereka yang nyata. Wesley sendiri menegaskan bahwa dengan standar objektif “hukum” Allah yang sempurna, maka semua orang yang telah disucikan perlu pengampunan setiap hari; juga ini menjadikan ia nampaknya salah karena mempertahankan pandangannya mengenai kehidupan Kristen yang lebih tinggi dalam arti berada dalam keadaan sempurna dan tanpa perbuatan dosa.

Pemahaman Teologis yang tidak Realistis:

Wesley paling tidak melihat bahwa pengalaman dalam perfection bisa mengangkat dan menghilangkan keinginan hati yang cenderung berdosa. Pemahamannya ini menunjukkan bahwa pengalaman ini tidak hanya merupakan satu perubahan dalam hakekat moral namun juga mempengaruhi semacam perubahan fisik (lihat Packer 140-141). Pandangan Wesley ini dimiliki oleh kelompok-kelompok seperti gereja Nazarane dalam ajaran mereka tentang penghapusan hakekat dosa.

Elitisme Rohani:

Penyuntikan second work of grace ke dalam kehidupan Kristen juga mengakibatkan satu bentuk elitisme rohani bagi mereka yang telah mengalami “kehidupan yang lebih tinggi (higher life)” ini. Ada kecenderungan besar untuk meremehkan mereka yang belum mengalaminya. (Salah satu mahasiswa saya di Simpson baru-baru ini berkata kepada saya kalau ia akan menulis satu artikel yang berjudul, “hidup saya sebagai orang Kristen kelas dua”!)

Bahaya Legalisme:

Khususnya bagi kelompok-kelompok aliran holiness, konsep Wesley tentang perfection sebagai kasih sempurna disamakan dengan apa yang disebut Wesley sebagai perfeksionisme “tingkat tinggi” yang berusaha mencari kesempurnaan Allah yang absolut. Untuk mencapai standar yang tinggi ini, dosa didefinisikan kembali sebagai tindakan-tindakan eksternal dan disamakan dengan norma-norma budaya seperti merokok, mabuk, dansa-dansi, rambut panjang, makeup, nonton di bioskop. Richard Lovelace dengan panjang-lebar membahas persoalan ini dengan mengatakan, “. .. kesadaran seseorang tidak bisa menerima sanctification kecuali atas dasar justification. Kalau ini terjadi kecemasan yang dihasilkan akan mengakibatkan perkembangan kedagingan luarbiasa yang bersifat agamawi karena orang percaya akan membangun kekudusan yang cukup mengerikan dalam meredakan hati nurani mereka atas keterasingan mereka dari Tuhan (The Dynamics of Spiritual Life, 104). “hati nurani yang sungguh-sungguh diterangi tidak bisa diredakan oleh sebesar apapun kasih karunia yang diperoleh dalam hidup ini, karena akan selalu gagal dalam perfection seperti yang dituntut hukum Allah. . . hati nurani seperti ini akan terpaksa mundur ke dalam penipuan diri yang kelam. Hasilnya adalah kebenaran fiktif dalam pelayanan-pelayanan heroik yang bersifat penyangkalan diri (ascetic piety), atau hanya menghasilkan usaha mendefinisikan dosa dalam pemahaman yang dangkal sehingga hati nurani manusia seakan-akan bisa melupakannya” (99).

Masalah dalam Eksegesis:

Pembuktian Alkitab atas ajaran Wesley (lihat penjelasan diatas) berisi janji-janji dan panggilan untuk hidup kudus (dengan keyakinan bahwa Allah pada akhirnya akan menebus umatNya dari dosa) atau berisi pernyataan-pernyataan penebusan yang telah diperoleh orang percaya pada waktu sekarang. “Wesley menegaskan bahwa janji-janji ini terpenuhi secara total dan absolut dalam hidup ini dan menggunakan deklarasi-deklarasi, beserta doa dan perintah, untuk mendukung kesimpulan-kesimpulan yang ia ambil” (Packer, 139). Pendeknya dalam memahami kehidupan Kristen, ia terbentur pada masalah eskatologi yang sepenuhnya dinyatakan, bukan melihatnya sebagai satu ketegangan yang “sudah dan masih belum”.

Keteguhan walaupun . . .

Wesley dalam hidupnya tidak bergantung pada justification supaya ia bisa layak dihadapan Tuhan. Ia melihat keberadaaan dirinya dalam sanctification dan membuatnya merasa jauh dari sempurna. Ini mengakibatkan ia meragukan tentang keselamatannya.

Pada Oktober 14, 1738 ia menulis, “Saya tidak bisa menemukan kasih Allah atau Kristus dalam diri saya. Ini mengakibatkan saya mati dan tidak yakin saat berdoa...Sekali lagi: Saya mendapati bahwa saya tidak memiliki sukacita dalam Roh Kudus.”

Pada Januari 4, 1739 ia menulis, “Teman-teman saya yakin saya sudah gila, karena saya mengatakan bahwa saya bukan orang Kristen tahun lalu. Saya menegaskan bahwa sekarang saya bukan orang Kristen. Memang saya tidak tahu siapa saya sebelumnya hingga sekarang…Meski selalu menggunakan semua cara memperoleh kasih karunia selama duapuluh tahun, sampai sekarang saya bukan orang Kristen.”

Pada Juni 27, 1766 ia menulis kepada Charles Wesley, “. . . akan tetapi (inilah misterinya) saya tidak mengasihi Allah. Saya tidak pernah mengasihi Allah. Oleh sebab itu saya tidak percaya pada ke-Kristen-an. Oleh sebab itu saya hanyalah seorang kafir yang jujur.”

Komentar P.T. Forsythe :

“Memikirkan kekudusan sebagai sesuatu yang kita miliki sebagai sesuatu yang berbeda dari iman kita dan membenarknanya adalah satu kesalahan fatal. Ini seperti percaya pada satu pemahaman Katolik, akan tetapi masih tetap mempraktekan keyakinan Protestan. (lihat juga Dieter, 14.)

III. Keswick

Dalam ajaran Keswick kita mendapati situasi yang berbeda dari Gerakan Kekudusan (Holiness Movement). Kalau dalam teologi kekudusan Wesley ajarannya berasal dari Wesley dan memiliki pengakuan iman yang jelas, maka ajaran Keswick lebih tidak berbentuk dan memiliki banyak variasi mulai dari yang paling keras seperti Ian Thomas, John Hunter, Alan Redpath dan persekutuan Torchbearers sampai yang lebih lembut seperti Campus Crusade For Christ dan Moody Bible Institute dan institusi-institusi pendidikan Injili (Evangelical) lainnya. Kalau teologi Holiness cenderung mendominasi kalangan aliran Arminian, maka Keswick cenderung mendominasi aliran Injili Amerika yang lebih condong pada aliran Calvinis. Menurut Packer Keswick menjadi standart pada kebanyakan kaum Injili kecuali aliran Pembaharuan (Reformed) dan Luteran (151).

A. Asal-usul ajaran Keswick

Akar ideologi: Teologi Kekudusan (Holiness Theology)

Charles Finney & Oberlin Theology

Phobe Palmer & Entire Devotion

William Boardman & The Higher Christian Life

Hannah Whitehall Smith & The Christian Secret of a Happy Life

Asal-usul Sejarah:

Istilah Keswick diambil dari satu kelompok masyarakat kecil di wilayah Lake di Inggris. Di tengah kejayaan Moody-Sankey, terdapat satu kehausan yang semakin kuat untuk kekudusan pribadi dan kemenangan rohani dalam hidup banyak orang injili yang berbahasa Inggris. T. D. Harford-Battersby, pendeta di Keswick merupakan contohnya. Ia menghadiri khotbah-khotbah Robert Pearsall Smith dan William Boardman pada tahun 1874 dan sejumlah khotbah di Brighton setahun kemudian. Pada pertemuan di Brighton, Harford-Battersby membuat satu rencana untuk membuat sejumlah pertemuan tahun berikutnya di wilayahnya di Keswick, dengan nama “Convention for the Promotion of Practical Holiness”

Pertemuan Keswick pertama menampung lebih dari 400 orang, yang berkumpul dengan semboyan “All One in Christ Jesus.” Sejak saat itu pertemuan-pertemuan serupa menjadi acara tahunan. Dari Keswick ajaran mereka dengan cepat menyebar di Inggris, Kanada dan Amerika Serikat, dimana Moody menjadi orang kunci dalam mempropagandakan ajaran Keswick di U.S.A.

Bentuk ajaran Keswick menjadi baku. Pelajaran pada hari pertama dalam pertemuan mereka adalah tentang dosa, yang digambarkan dengan amat rinci. Pada hari kedua topiknya adalah tentang keselamatan atas kuasa dosa lewat salib. (Di sini pemahaman Keswick tentang Roma 6-8 menjadi kunci pengajaran.) Hari ketiga membicarakan tentang pengudusan (consecration), dimana manusia menyerahkan diri pada kekuasaan Kristus sebagai satu krisis dan proses. Pada hari keempat membicarakan Hidup Dipenuhi Roh (Spirit filled Life). Dan pada hari terakhir memfokuskan pada pentingnya pelayanan Kristen yang dilihat sebagai hasil hidup yang dipenuhi Roh.

“Keswick bukanlah satu sistem doktrin, tidak seperti satu organisasi atau denominasi, yang mungkin menjadi alasan mengapa ajarannya bisa begitu meluas. Meskipun banyak tokoh agama dan sarjana terkenal yang memimpin gerekan mereka, tidak ada satu pemimpin Keswick yang menulis satu doktrin tentang pengajarannya. . . . Mereka tidak memiliki pernyataan doktrinal yang resmi . . . dan ada sejumlah besar posisi doktrinal yang berlainan yang mendasarkan diri pada dan mengajarkan aliran yang berkaitan dengan Keswick.” McQuilken (153)

B. Pemahaman Teologis

Persoalan:

Alasan mengapa ada ajaran Keswick adalah karena dianggap orang-orang Kristen kebanyakan bukan orang-orang Kristen yang sewajarnya sesuai standar Perjanjian Baru. Menurut pandangan Keswick:

“Orang Kristen yang sewajarnya memiliki ciri-ciri mengasihi dalam menghadapi penolakan dan kemasabodohan, bahkan dalam kekerasan, dan mereka dipenuhi oleh sukacita ditengah keadaan yang tidak menyenangkan dan kedamaian saat segala sesuatu tidak mendukung. Orang Kristen sewajarnya mengalahkan peperangan dan pencobaan, selalu patuh akan perintah Tuhan, dan bertumbuh dalam penguasaan diri, bersyukur dengan apa yang ada, rendah hati dan berani. Proses pemikiran selalu dibawah kontrol Roh Kudus dan mendapat petunjuk dari Alkitab sebagai sumber dimana orang Kristen seharusnya merenungkan sikap dan perilaku Yesus Kristus. Allah menjadi yang paling utama dalam hidup orang Kristen, dan hubungan dengan orang lain lebih diutamakan daripada keinginan-keinginan pribadi. Orang Kristen sewajarnya memiliki kuasa tidak hanya untuk kehidupan yang benar namun juga dalam pelayanan yang efektif di gereja. Yang terutama ia memiliki persekutuan yang konstan dengan Tuhan.” (McQuilken 151)

Pemahaman Keswick tentang orang Kristen kebanyakan adalah bahwa mereka cukup bermartabat namun mereka tidak memiliki sifat supernatural. Kalau mereka mendapat pencobaan mereka akan tenggelam. Mereka memiliki ciri-ciri mementingkan diri sendiri.

Solusi yang Ditawarkan:

Solusi yang ditawarkan aliran Keswick dalam banyak hal mencerminkan teologi Kekudusan Wesley yang dari padanya memang ajaran Keswick lahir.

Appropriation:

Keselamatan (dipahami scara menyeluruh) merupakan inisiatif manusia dan yang ilahi. Inisiatif dari Allah adalah memberikan keselamatan. Sedangkan manusia bertanggungjawab untuk menerimanya. Jadi manusia bertanggungjawab untuk menanggapi janji kemenangan setiap hari atas dosa sama seperti pada justification sebelumnya.

Caranya:

Bagi Wesleyanisme cara memperoleh kemenangan ini memiliki satu kesamaan ajaran Keswick:

1. Dengan segera meninggalkan setiap dosa, keraguan, pemanjaan diri, yang disadari dan halangan dalam kehidupan rohani lainnya yang disadari (Roma 6:12-14; 8:12-14; 14:21-2 dan Ibrani 12:1-2).

2. Menyerahkan kehendak dan keberadaan sepenuhnya kepada Yesus Kristus yang tidak hanya adalah penyelamat, akan tetapi juga sebagai Tuhan, dalam kepatuhan yang penuh kasih dan sungguh-sungguh (Roma 10:9, 1 Korintus 12:3).

3. Dengan beriman kepada janji dan kuasa Allah dalam menjalani kehidupan yang suci dan benar (Roma 4:20-25; 6:2, 2 Petrus 1:4 dan Ibrani 8:10).

4. Membaharui dan mematikan keangkuhan yang berpusat pada pemanjaan diri dan keangkuhan diri, supaya Tuhan menjadi yang terutama dalam segala hal (Galatia 2:19-20; 4:24,25; Kolose 3:5; 2 Korintus 5:15).

5. Pembaharuan dan transformasi hati nurani dalam kasih karunia (Roma 12:2; Efesus 4:23; 1 Petrus 3:4).

6. Mengutamakan Tuhan dalam Sanctification, pengudusan dan pelayanan (2 Kor 6:14; 7:1 dan 2 Tim 2:19-21).

7. Dengan dilengkapi oleh kuasa dan kepenuhan Roh, maka orang percaya akan menerima karunia-karunia seperti pada zaman Pentakosta (Lukas 24:49, Kisah 1:8; Efesus 5:18). (Arthur T. Pierson, forward Movements of the last Half Century (London & New York: Funk And Wagnall Co., 1900) 32.)

C. Unsur-unsur Utama dalam Ajaran Keswick

Mengenai Dosa:

Ajaran Keswick menyadari adanya peperangan dan kekalahan seseorang melawan dosa. Keswick melihat manusia sebagai budak dosa, dosa adalah tuan yang memperbudak pikiran, perasaan dan kehendak. Atas dasar Kejatuhan manusia yang telah memisahkan manusia dari Allah dan bahwa dosa telah membentuk hakekat manusia, banyak pembicara dan penulis ajaran Keswick menekankan kenyataan tentang dosa dan membantah kemungkinan kesempurnaan yang tanpa dosa bagi manusia. Pemahaman Keswick tentang dosa didasarkan pada enam pemikiran:

(1) Dosa adalah serangan dan pemeberontakan atas kesucian dan kebaikan Tuhan

(2) Dosa menguasai kehidupan manusia. Manusia sepenuhnya telah gagal. Roma 6 dan 7 menggambarkan keadaan menyedihkan tersebut:

Bab 6 menunjukkan bagaimana manusia diperbudak dosa bisa dibebaskan hanya oleh Tuan yang baru, yaitu Kristus (6:6-7). Bab 7 dilihat dari sudutpandang orang Kristen yang masih tidak berdaya dalam menghadapi dosa. Banyak orang Kristen menemukan penebusan yang memadai dalam kematian Kristus, akan tetapi mereka belum menemukan rahasia kemurnian hidup. Dosa masih menjadi penguasa. (D. L. Pierson, Arthur T. Pierson, a Biography (London: Nesbet & Co., 1912) 287)

(3) Dosa adalah kecacatan moral.

Dosa telah membuat manusia menjadi najis, tidak layak untuk mendekati Tuhan yang suci. Bahkan sebagai orang Kristen “satu ketidakpatuhan kecil saja akan membuat orang Kristen dilempar keluar dari persekutuan dengan Tuhan.” (Hopkins, 16)

Sejumlah pasal dalam PL dipakai untuk mendukung pengertian disini, diantaranya adalah Yesaya 6:5: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Kekuatan dosa sedemikian besarnya sehingga tidak bisa dipatahkan

(4) Dosa adalah penyakit rohani.

Kekuatan hakekat dosa sangat ditekankan dalan ajaran Keswick.

(5) Dosa adalah akibat kebiasaan

(6) Dosa cenderung menguasai

Dosa adalah kecenderungan yang masih tetap mencoba menguasai hidup seseorang. Ajaran Keswick secara terang-terangan menolak kemungkinan lenyapnya hakekat dosa. Jawaban yang diberikan ajaran Keswick untuk persoalan ini adalah dengan pengajaran tentang reaksi-balik (counteraction). Jadi kuasa dosa mendapat perlawanan dari kuasa Roh Kudus. Kecenderungan berbuat dosa masih dialami orang pecaya, akan tetapi kuasa Roh yang ada dalam dirinya masih lebih kuat. Kalau seseorang berjalan dalam Roh maka Roh akan memikul beban dosa. Jika seseorang berbuat dosa, Roh berhenti melakukan reaksi-balik dan orang percaya akan terjerat dalam lingkaran dosa. Ia tidak memiliki harapan lagi dalam mengatasi dosa dibandingkan orang yang belum percaya yang masih memiliki harapan.

Kesembuhan dari Allah untuk dosa: Model ajaran Keswick.

Kesembuhan untuk dosa didasarkan atas hubungan yang baru yang dinikmati seseorang dengan Kristus sebagai Tuan atas dirinya. Penekanannya ada pada kuasa kebangkitan Kristus dan persekutuan orang percaya denganNya. Kesadaran akan identitas baru yang dimiliki orang prang percaya adalah penting. “Inti dan pusat ajaran Keswick adalah ajarannya mengenai penyucian oleh iman (sanctification by faith). Posisi ajaran Keswick adalah bahwa dalam Alkitab, penyucian itu adalah lewat iman, dan bukan sebaliknya.” (Barabas, 100)

Dalam model ajaran Keswick ada tiga bagian dalam Sanctification

1. “pemberian” (adalah sanctification yang bersifat posisional) 1 Kor 1:30.

2. eksperiential: merupakan transformasi setiap hari sejak kesadaran akan kehidupan baru dengan Kristus dan berlanjut sepanjang hidup

3. krisis:

“Dengan tindakan iman yang disadari dan sungguh-sungguh, seseorang akan memasuki warisannya yang benar dalam mempertahankan kemenangan atas dosa yang disadari; ini adalah apa yang kita percaya dalam apa yang diajarakan firman mengenai orang Kristen yang normal. Kekalahan konstan, keterikatan yang menyakitkan dan kecemasan yang tidak bekesudahan bisa diganti dengan satu kehidupan yang memiliki “kedamaian sejati”. Alkitab mengajarkan bahwa dalam Kristus ada kebebasan dan kelegaan. Ini harus diperoleh bukan dengan cara pergumulan sepanjang hidup, melainkan dengan menyerah kepada Roh Allah.’ (Charles F. Harford, ed. The Keswick Convention: Its message, Its Method, Its Men. (London: Marshall Brothers, 1907) 6)

Jika krisis terjadi maka Kristus adalah yang menyucikan kita (1 Korintus 1:30). Ia harus diterima seperti itu dengan iman.

“Kristus harus sepenuhnya diterima sebagai yang menyucikan kita; kalau kita ingin maju dalam kekudusan, kita harus berhenti menghargai kekudusan dengan usaha sendiri. Karunia untuk kekudusan harus dinyatakan dalam hidup kita, tetapi usaha kita adalah usaha yang dimulai dari kekudusan, bukan untuk kekudusan. Untuk menjadi suci kita harus memiliki yang suci. Ini yang dimaksud Kristus dalam kita.” (Hopkins, 68)

Dalam krisis model Keswick kehendak seseorang dipatahkan, dan orang percaya melihat dosanya sebagai pemberontakan terhadap Allah. Ini mungkin diikuti oleh emosi. Dalam memberi contoh krisis model Keswick, Hopkins melihat hidup Yakub. Yakub bergumul dengan malaikat sepanjang malam. Akhirnya ia tidak lagi bergumul melainkan merangkul dan membiarkan Tuhan memberkatinya: “Tindakannya dalam merangkul merupakan simbol bagi kita untuk hidup beriman yang berkemenangan setelah kita menyerah dalam kepatuhan yang sungguh-sungguh. Anda tidak bisa merangkul sampai Anda berhenti untuk menolaknya.” (65-66)

4. Kepenuhan dalam Sanctification.
Transformasi menjadi seperti Kristus setelah kematian.

Pengudusan:

Yang dimaksudkan disini adalah menyerah dalam segala hal. Akibatnya seluruh aspek kehidupan kita diubahkan. Lewat pengalaman ini kuasa Allah akan mulai mengalir dalam kehidupan orang percaya.

Menyerah dalam segala hal adalah penting karena dalam segala hal diri seseorang berdosa dan tidak berguna. “Kita harus membenci hidup kita dan melepaskannya…Selama diri saya masih menjadi sesuatu dalam hidup saya, maka Yesus tidak bisa menjadi segalanya…Kalau kita membuang hidup kita, Tuhan akan mengisi kita; hidup Anda harus dibuang.” (Andrew Murray, Full Blessing of Pentecost, 69)

Pemahaman ajaran Keswick tentang manusia yang telah dibaharui (regenerate man) bersifat dualistis. Di dalam dirinya ada sifat-sifat manusia lama yang total berdosa dan merupakan bagian diri seseorang. Selain sifat-sifat lama ada sifat baru yang adalah bagian dari diri seseorang yang bersekutu dengan Tuhan.

Keswick tidak memberi harapan untuk transformasi pribadi orang percaya sepanjang hidupnya. Hidup seseorang harus disalibkan, lewat pengudusan yang menyakitkan

“Pengudusan adalah episode yang menyedihkan dan kadang-kadang menyakitkan, namun yang harus dihadapi dengan ketulusan. Memisahkan diri dari kebiasaan duniawi dan ikatanya tidaklah mudah. Namun kalau tidak demikian kesaksian seseorang akan kurang kuat…dedikasi setengah-setengah selalu berakibat fatal.” (Aldis, 54)

Krisis dalam pengudusan bersifat pasif, seperti konsep pelepasan yang diajarkan Hannah Whitehall Smith. Pelepasan ini merupakan satu tindakan tanggungjawab penuh dari orang percaya. Hasil pelepasan diri adalah kepenuhan roh dan damai. Scroggie menjelaskan:

“Pelayanan yang penuh gejolak akan berakhir. Ini tidak berarti berhenti dari pelayanan, namun akan ada kelegaan dari jerih payah, supaya kita bisa mencapai hal-hal yang luar biasa dengan tenang dan dengan kelegaan. Kemudian kita akan memperoleh sukacita “karena buah roh adalah sukacita.” Salah satu hasilnya adalah kasih untuk Tuhan dan sesama. Juga akan ada kuasa—dalam pelayanan Kristen, dalam pekerjaan sekuler, dimanapun Tuhan menempatkan kita. Dan akan ada kemenangan—kemenangan konsisten atas dosa.” (Wm. Graham Scroggie, The Fullness of the Holy Spirit, 19)

Kepenuhan Roh:

Penekanan disini mengikuti consecration. Ajaran Keswick tentang kepenuhan roh (filing of the spirit) didasarkan pada Efesus 5:18 yang dilihat dengan kacamata eksegetis atas keberdosaan manusia dan peneyerahan total.

Pardington menggambarkan konsep ajaran Keswick tentang kontrol Roh Kudus sebagai berikut:

Seorang mahasiswa seni duduk dalam satu galeri seni nasional di Eropah, sambil berusaha meniru satu lukisan dari seorang pelukis terkenal di masa lalu. Ia berusaha sedemikian rupa dalam keterbatasannya. Akhirnya ia tertidur diatas kanvas. Ia bermimpi roh pelukis itu merasuki otak dan tangannya. Dengan semangat roh pelukis itu meraih kuas dan dengan cepat menghasilkan satu maha karya. Ia kemudian menerima penghargaan tertinggi. Karena lukisannya memiliki unsur kejeniusan. Kemudian ia terbangun, dengan rasa menyesal karena hanya mimpi.

Namun, saudara-saudari yang terkasih, mimpi kita bisa menjadi kenyataan lewat Roh. Kita berusaha menjadi seperti Kristus, berusaha sepatuh mungkin, namun selalu gagal. Akhirnya kita menyerah. Kemudian Tuhan memberi kita penglihatan tentang hidup yang dipenuhi Kristus. Ia akan bersatu dengan kita, memasuki hidup kita. Kristus akan berpikir lewat pikiran kita. Kristus akan menjalankan perintah Tuhan dalam diri kita! Ia akan menghancurkan kuasa dosa dalam hidup kita. (George Pardington , The Crisis of the Deeper Life (Harrisburg Pa.: Christian Publications, n.d.) 149)

Keswick mengajarkan pada dasarnya adalah tugas orang percaya untuk meninggalkan dirinya supaya Kristus bisa menentukan segalanya.

D. Kritik

Pandangan tentang Dosa:

Ada dua pemahaman dosa dalam ajaran Keswick, yang bersifat teoritis dan praktis. Kita bisa melihat ini dalam ajaran McQuilkin, namun hal ini lebih kentara dalam penulis-penulis Keswick sebelumnya. Seperti dikatakan sebelumnya, dari pemahaman mereka, manusia sama sekali berdosa dan tidak berpengharapan, berdosa karena dirinya tidak bisa menyenangkan Allah meski sudah orang percaya. Oleh sebab itu diperlukan kuasa Roh sesuai 1 Yohanes.

Akan tetapi secara praktis ajaran Keswick kembali mengikuti definisi Wesley tentang dosa sebagai sesuatu yang dilakukan dengan sengaja (volitional). Perhatikan keseringan penekanan pada dosa yang disadari oleh seseorang untuk mempertahankan kemenangan atas dosa yang dinyatakan oleh kuasa roh.

Pengudusan: saya yakin penegasan ajaran Keswick tentang pelepasan diri secara total akan mengakibatkan penolakan martabat manusia sebagai mahkluk yang diciptakan segambar dengan Allah, gambar yang harus manusia pertahankan meski dalam keberdosaan. Kalau diri manusia memang tidak berguna, mengapa perlu penebusan? Ajaran yang menegaskan perlunya Kristus yang bersifat mistis dalam melakukan segala hal bisa mengakibatkan bunuh diri rohani. Perjanjian Baru jelas sangat menghargai pribadi seseorang kalau ia sudah dibenarkan (justified), dan PB jelas sangat menghargai pribadi seseorang.

Pelayanan Roh: Kontrol

Dalam ajaran Keswick kontrol Roh (Spirit’s control) atau kepenuhan Roh (filling of the Spirit) merupakan kunci untuk segala persekutuan dengan Tuhan. Akan tetapi, konsep Keswick mengenai kepenuhan menyerupai kerasukan setan; meski ini kedengaran kasar dan mengejutkan ini adalah analogi yang sebenarnya digambarkan McQuilkin saat menjelaskan pelayana roh dalam memenuhi orang percaya

“Kalau seseorang dirasuki setan, Alkitab menjelaskan bahwa orang tersebut lebih dari sekedar kesetanan, dengan ciri-ciri seperti setan dalam pemikiran dan tindakannya. Alkitab memaksudkannya bahwa Setan dan kuasanya memegang kendali hidup orang tersebut, paling tidak pada saat ia kerasukan. Karena Roh Kudus, yang adalah pribadi seperti juga roh-roh jahat [yang memiliki pribadi], nampaknya ini juga berlaku untuk istilah “dipenuhi Roh”. Makna kiasannya dengan demikian akan berarti bahwa Roh Kudus akan mendominasi, mengontrol sepenuhnya, menguasai seluruh keberadaan manusia, meski dominasi ini bersifat anugerah, yang hanya terjadi kalau diundang, tidak seperti kerasukan setan, akan menggantikan atau menguasai tindak-tanduk seseorang.” (177)

McQuilken kemudian mengutip Roma 8:9 sebagai contoh kontrol yang dimaksud (Alkitab NIV disini menggunakan kata control tapi teks Yunaninya adalah este .. .en pneumati.) Akan tetapi konteks Roma 8 jelas merupakan perbandingan orang percaya dengan orang tidak percaya, bukan antara orang percaya yang dipenuhi Roh dengan orang percaya yang masih duniawi (. . . jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. 8:9b)

Kontrol:

Perjanjian Baru tidak pernah menggunakan istilah control untuk menjelaskan hubungan orang percaya dengan Roh. Istilah yang lebih tepat mungkin adalah leading (“membimbing/menuntun”). Sebenarnya, salah satu bentuk pelayanan Roh dam diri kita menghasilkan self-control (penguasaan diri), ini nampaknya hampir tidak mungkin kalau orang yang telah dibaharui masih sepenuhnya jahat seperti yang ditegaskan dalam ajaran Keswick.

Perfeksionisme Praktis:

Tujuan ajaran Keswick adalah damai dan sukacita yang muncul dari kemenangan atas segala dosa yang disadari. Meski ajaran Keswick dalam pernyataannya menolak kalau orang Kristen bisa berada pada satu saat yang tanpa dosa (secara sempurna) dalam hidup ini, nampaknya ajaran ini menganut perfeksionisme tahap demi tahap. Seperti yang ditulis Packer: “Ajaran Keswick yang menjanjikan kemenangan penuh atas segala dosa yang disadari tidak sesuai dengan yang diijinkan Perjanjian Baru untuk kita harapkan di dunia ini. (lihat 1 Yohanes 1:8-10; Galatia 5:17; Roma 7:14-25. . . ). Kebenaran orang Kristen saat ini bersifat relatif; belum mungkin yang ia buat tidak luput dari dosa. Dibalik pelayanannya yang terbaik ada sedikit motivasi pribadi yang tercampur, dan seperti penilaian Yesus pada orang Farisi, maka sangatlah tidak berdasar secara moral untuk mengevaluasi tindakan seseorang tanpa melihat motivasi dan tujuan orang tersebut (lihat Matius 6:1-6; 6-18; 23:25-28)

Ajaran tentang Keheningan (Quietism):
Sifat-sifat Manusia Lama & Orang Kristen Duniawi:

Seperti yang dibahas diatas ajaran Keswick melihat sifat-sifat manusia lama sebelum orang menjadi percaya (old nature) adalah sesuatu yang tidak bisa tunduk dalam transformasi, namun sepanjang hidup seseorang sifat-sifat ini terus berusaha mendominasi sekuatnya. Transformasi roh tidak diharapkan terjadi pada sifat-sifat lama ini. Ini sungguh bertentangan dengan ajaran Paulus mengenai transformasi progresif (progressive transformation) dalam diri orang percaya untuk menjadi seperti Kristus (2 Korintus 3:18; Roma 12;2)

Berkaitan dengan hal ini adalah ajaran Keswick mengenai orang Kristen duniawi (carnal Christian), yaitu orang Kristen yang berada diluar persekutuan dengan Allah. Ajaran ini didasarkan pada 1 Korintus 3:1-3 yang dipahami salah. Seperti yang dengan tepat ditulis Hokema:

. . . Tidak ada dasar Alkitab untuk pembedaan orang Kristen yang masih “duniawi’ dengan yang sudah “rohani”. Perjanjian Baru hanya membedakan antara orang yang telah lahir baru dengan orang yang belum (Yohanes 3:3,5), antara mereka yang telah percaya kepada Kristus dengan mereka yang tidak (ayat 36), antara mereka yang hidup sesuai kedagingan dan mereka yang hidup sesuai Roh” (Roma 8:5 RSV), dan orang yang rohani dan yang tidak rohani (1 Korintus 2:14-15 RSV). PB tidak pernah berbicara tentang kelompok orang yang ketiga yang disebut “Kristen duniawi.”

Kutipan dari 1 Korintus 3:1-3 bukan mengenai kelompok orang yang ketiga melainkan mengenai orang Kristen belum dewasa rohani, yaitu kepada “yang belum dewasa dalam Kristus” (ayat 1). Meski mereka masih bayi mereka “dalam Kristus.” Keduniawian mereka hanya masalah perilaku, yang harus berubah dalam kedewasaan. Karena mereka adalah didalam Kristus, mereka sungguh-sungguh adalah “ciptaan baru”, (2 Korintus 5:17 KJV), telah “dikuduskan” (1 Korintus 1:2; 6:11), dan kaya secara rohani (3:21-23) (187)

Kekudusan: dalam model Keswick kekudusan adalah kebebasan dari dosa atau kasih yang sempurna seperti ajaran Wesley, bukan merupakan kesesuaian (conformity) dengan sifat-sifat Allah. Jadi, ajran Keswick lebih merupakan ajran yang berpusat pada manusia (anthropocentric) dan bukan yang berpusat pada Tuhan (theocentric).

Packer menulis: “. . ini berarti menentang dan bukan mendukung pertumbuhan dalam kepekaan moral dan rohani. Memperoleh kesenangan pada saat sekarang sebagai tujuan [hidup] seseorang bukanlah jalan rohani yang alkitabiah. (151)

Introspeksi:

Persoalan besar lain dalam ajaran Keswick dalam segala bentuknya adalah kecenderungan mereka untuk melakukan introspeksi kelam. Jika hubungan seseorang dengan Tuhan tergantung pada pengakuan dosa yang disadari dan pelepasan total atas dosa yang disadari, bagaimana seseorang bisa memastikan kalau ia sudah mengakui semua dosanya? Kalau ada dosa yang tercecer, maka orang tersebut masih tetap diluar persekutuan dengan Tuhan dan tidak memiliki kuasa rohani. Jadi bukannya persekutuan dengan Allah yang menciptakan kekudusan, ajaran Keswick menuntut kekudusan sebelum persekutuan dengan Tuhan. Pemahaman seperti ini dengan tepat oleh Harold Bussell sebagai cultic [atau ajaran sesat] (Unholy Devotion, )

Elitisme Spiritual:

Sama seperti Wesleyanisme krisis setelah orang lahir baru (post conversion crisis) membedakan mereka yang telah mengalaminya dan mereka yang tidak mengalaminya. Mereka yang telah merasakan pengalaman ini memiliki kecenderungan untuk memandang rendah mereka yang belum mengalaminya sebagai orang yang tidak rohani.

Rohani dalam formula:

Meski ada penekanan bahwa kehidupan rohani berkaitan dengan hubungan seseorang dengan Roh dan Kristus (misalnya ajaran McQuilken) cara mencapai hubungan itu diatur oleh formula. Bagi Trumbull formulanya adalah “Let go and let God” [Lepaskan dan Biarkan Tuhan yang berperkara]. Andrew Murray memberi sejumlah daftar:

“Ketiga tahap untuk jalan ini adalah: Pertama, keputusan yang diambil dengan sadar untuk mematikan diri; kemudian, berserah kepada Kristus untuk memikul salib; “bahwa manusia lama kita telah disalibkan”, yang merupakan iman yang mengatakan, “Aku disalib bersama Kristus;” dan kemudian kuasa untuk hidup sebagai orang yang telah disalibkan untuk kemuliaan Kristus.” (Holy In Christ, 182)

Mungkin formula yang paling dikenal adalah formula yang dipakai Campus Crusade dalam traktat mengenai Roh Kudus. Tahap-tahapnya bisa beragam, namun intinya sama. Kemenangan rohani dijanjikan lewat cara-cara dalam satu formula. Bukti kerohanian seseorang bukan buah Roh dalam kehidupan seseorang melainkan apapun yang dimiliki seseorang oleh iman akan memenuhi persyaratan formulanya. Ini akan menyebabkan bahaya besar lainnya. Penekanan dalam teologi Keswick/Hidup Yang Berkemenangan adalah dengan memperoleh kemenangan atas dosa dan merasakan kemenangan dan kehadiran Allah. Frank menulis:

Beberapa diantara yang mengikuti langkah-langkahnya dengan cermat merasa tidak ada perubahan apa-apa; untuk ini para pengajar Hidup Yang Berkemanangan menjawab bahwa jangan mengandalakan perasaan. Saya yakin disinilah sumber kekacauannya, dan seharusnya orang sudah bisa menebaknya. Kehidupan yang berkemenangan yang ditawarkan kepada orang Kristen, khususnya oleh Trumbull, merupakan satu cara yang sama sekali baru dalam merasa. Apalagi janji yang bisa kita berikan untuk menggantikan kecemasan dan kemarahan dengan sukacita dan kedamaian? Apa itu “kebahagiaan” kalau bukan satu perasaan? Akan tetapi saat diperhadapkan dengan komentar seorang wanita yang berkata, “Saya sudah berserah, tetapi tidak terjadi apa-apa”, Trumbull mengutip C. I. Scofield: “ ‘ada banyak orang mengharapkan satu perasaan untuk memastikan tindakan Tuhan… ‘Sahabat jangan menunggu perasaan untuk memastikan Firman Tuhan. Kalau Anda mengandalkan perasaan, maka Anda mendasarkan diri pada pasir. . . Kemenangan tidaklah ada kaitannya dengan perasaan; Friman Allah itu benar baik kita merasakannya atau tidak.” (Frank, 149)

IV. Kesimpulan

Dalam kekudusan ala Wesley dan Keswick kita menemukan dua model Sanctification yang meskipun berbeda secara rinci keduanya didasarkan pada pemisahan antara justification dan sanctification. Wesleyanisme menyebut krisis sesudah percaya (post-conversion crisis) ini sebagai satu karya kasih karunia yang kedua (second work of grace). Keswick menyebutnya sebagai berkat kedua (a second blessing), meski pada prakteknya disamakan dengan second work of grace dari Wesleyanisme. Kedua model ini bersifat perfeksionistis, dalam arti bahwa keduanya mendefinisikan kembali hakekat dosa, dengan membatasinya sebagai tindakan pemberontakan yang disadari (paling tidak dikaitkan dengan persekutuan dengan Allah yang sedang berlangsung). Akibatnya seseorang bisa disebut tidak berdosa pada satu saat tertentu. Penyucian (sanctification) aliran kekudusan ini dalam sejarahnya menghasilkan satu pola pikir legalistis yang sering melihat dosa sebagai norma-norma budaya. Keswick pada kenyataannya menerapkan penyerahan diri dan iman, yang mengakibatkan legalisme objektif menjadi subjektif.

Dari semua pembahasan ini, perlu diingat bahwa kedua posisi ini memiliki unsur positifnya (Packer mendaftarkan sisi positif tersebut pada halaman 136-137; 148-150) meskipun keduanya gagal dalam hal-hal penting. Keduanya menawarkan apa yang dirindukan orang Kristen, yaitu satu hubungan yang erat dengan Kristus. Seperti yang dikatakan Packer “. . . Kalau orang Kristen meminta kepada Tuhan untuk menjadi seperti Kristus, maka lewat kuasa Roh, Ia akan mengabulkannya, meskipun ada kesalahan dalam teologi mereka. Ia adalah Allah yang maha baik dan murah hati” (165).

Pembacaan Lebih Lanjut

Barabas, Steven. So Great Salvation.

Bundy, David. Keswick: A Bibliographic Introduction to the Higher Life.

Bussell, Harold L. Unholy Devotion.

Deiter. et.al. Five Views on Sanctification.

Frank, Douglas W. Less Than Conquerors (103-166)

Lindstrom, Harold. Wesley & Sanctification

Lovelace Richard. The Dynamics of Spiritual Life.

Packer, J. I. Keep in Step with the Spirit.

Pollock, John, The Keswick Story

Rathe, Mark Steven, The Keswick Movement its Origins and Teachings, M.A. Thesis, Simpson College, San Francisco 1987.

Ryle, J.C. Holiness.

Smith, Hannah Whitehall. The Christian Secret of a Happy Life

Tyson, John R. Charles Wesley on Sanctification.

Warfield, B. B., Perfectionism.

Related Topics: Sanctification