Where the world comes to study the Bible

Kejujuran Keuangan

Related Media

Translated by Stevy

Pendahuluan

Salah satu tipuan setan yang paling efektif adalah pemikiran bahwa kebahagiaan ada didalam hal-hal yang kita miliki. Melalui penipuan ini, dia telah membuat lembu emas, ilah yang disebut materialisme. Seperti menggonggong ditengah jalan, dia membujuk setiap orang yang lewat, “datanglah dan memuja dikakinya, beli, jual, dapatkan keuntungan, dan miliki, itu semua akan membuat anda bahagia.”

Saudaraku, walau seseorang memiliki panggilan rohani dan harta sorgawi yang luar biasa, dia tidaklah bebas dari sasaran setan atau terlepas dari penyakit materialisme. Seperti suatu wabah, hal itu menjangkiti kita disetiap sudut—televise, media cetak, tampilan dijendela, ruang pamer, jalanan. Godaan materialisme ada dimana-mana dan berusaha masuk kedalam hidup kita melalui pesan yang menyolok dan yang luhur.

Dalam konteks kita hidup sebagai orang asing dan pendatang (1 Pet. 1:17-18; 2:11), dan sebagai orang yang hidup dengan memandang pada warisan surgawi yang tidak bisa rusak, tidak ternoda oleh kejahatan, dan tidak dirusak oleh waktu (1 Pet. 1:4), Petrus juga memperingatkan kita untuk berkepala dingin dan berjaga-jaga melawan akal setan (1 Pet. 1:13; 5:8). Kenapa? Karena, jika kita tidak berjaga-jaga, setan akan memalingkan kita dari panggilan sorgawi sebagai umat milik Allah sendiri yang menyatakan kemuliaanNya dan yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan (tipuan setan) kedalam terangNya yang ajaib (1 Pet. 2:9).

Uang adalah perkara kecil (Luke 16:10). Kenapa? Karena uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Uang tidak bisa memberikan hidup kekal atau arti hidup yang sejati (Isa. 55:1-3; Rev. 3:16-18). Tapi, tidak ada yang lebih memperlihatkan orientasi dan hubungan kita dengan Tuhan seperti sikap kita terhadap uang.

Yesus Kristus menjelaskan bahwa salah satu tanda kerohanian sejati adalah sikap yang benar terhadap harta. Tanda seorang manusia yang benar dan saleh adalah pikirannya kepada Tuhan dan harta surgawi.

Alkitab banyak sekali bicara mengenai uang atau kepemilikan. Enambelas dari tigapuluh delapan perumpamaan Yesus berkaitan dengan uang. Satu dari setiap sepuluh ayat dalam Perjanjian Baru berkaitan dengan hal ini. Alkitab memiliki 500 ayat mengenai doa, kurang dari 500 ayat mengenai iman, tapi lebih dari 2,000 ayat mengenai uang. Uang merupakan masalah yang sangat penting karena sikap seseorang terhadapnya sangat menentukan hubungannya dengan Tuhan, mengenai pemenuhan rencananya dalam hidup ini, dan mengenai karakternya.

Tanggung Jawab Perencanaan

Tanpa perencanaan yang didasarkan atas nilai, tujuan, prioritas Alkitab, uang menjadi tuan yang keras dan, seperti daun yang masuk kedalam gulungan angina, kita hanyut kedalam pengejaran dunia akan harta (Luke 12:13-23; 1 Tim. 6:6-10).

Perencanaan keuangan adalah suatu yang Alkitabiah dan itu merupakan pelayanan yang baik, untuk bebas dari ilah materialisme, dan cara melindungi diri dari membuang-buang sumber yang Tuhan percayakan pada kita (Prov. 27:23-24; Luke 14:28; 1 Cor. 14:40).

Perencanaan keuangan harus dilakukan didalam ketergantungan pada arahan Tuhan dan dalam iman dimana kita bergantung pada Tuhan untuk keamanan dan kebahagiaan daripada kekuatan kita sendiri (Prov. 16:1-4, 9; Psalm 37:1-10; 1 Tim. 6:17; Phil. 4:19).

Tanggung Jawab Disiplin

Jika perencanaan keuangan kita adalah bekerja, ini membutuhkan disiplin dan komitmen sehingga rencana kita diwujudkan dalam tindakan. Kita harus melanjutkan maksud baik kita (Prov. 14:23). Kejujuran keuangan merupakan aspek penting dari pertumbuhan rohani dan kesalehan (2 Cor. 8:7). Tapi kesalehan membutuhkan disiplin (cf. 1 Tim. 4:8; 6:3-8).

Maksud baik tidak berarti tanpa rencana yang diwujudkan kedalam tindakan. Orang Korintus menyatakan keinginan dan kemauan mereka dalam memberi petunjuk-petunjuk dalam memberi (1 Cor. 16:1-2), tapi mereka gagal menyelesaikan rencana itu (2 Cor. 8:10-11).

Tanggung Jawab Pelayanan

Kejujuran keuangan keluar dari pengakuan bahwa semua yang kita miliki adalah dari Tuhan (1 Chron. 29:11-16; Rom. 14:7-9; 1 Cor. 6:19-20). Hidup merupakan perjalanan sementara dimana orang Kristen melihat dirI mereka sebagai orang asing, penduduk sementara, yang ada disini sebagai pelayan anugrah Tuhan. Semua yang kita miliki—talenta kita, waktu, dan harta—dipercayakan oleh Tuhan yang harus kita investasikan bagi kerajaan dan kemuliaan Tuhan (1 Pet. 1:17; 2:11; 4:10-11; Luke 19:11-26).

Tanggung Jawab Bekerja

Salah satu cara Tuhan menyediakan kebutuhan kita adalah melalui bekerja—suatu pekerjaan dimana kita mendapatkan penghidupan sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan diri dan keluarga kita (2 Thess. 3:6-12; Prov. 25:27).

Uang yang kita peroleh juga digunakan untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan menolong mereka yang dalam kekurangan, pertama keluarga Tuhan dan baru mereka yang ada diluar iman (Gal. 6:6-10; Eph. 4:28; 3 John 5-8).

Petunjuk Mengenai Menabung

Dukungan Alkitab

(1) Tuhan mengarahkan Yusuf untuk menyimpan demi masa depan (Gen. 41:35).

(2) Menabung untuk masa depan menunjukan hikmat dan dinyatakan dalam ciptaan Tuhan (Prov. 21:20; 30:24-25; 6:6-8).

(3) Menabung untuk masa depan merupakan tanggung jawab pelayanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang diperkirakan maupun yang tiba-tiba (1 Tim. 5:8; 2 Cor. 12:14).

Petunjuk Alkitab

(1) Menjaga pandangan yang tepat akan kepemilikan. Ingat, semua kekayaan kita berasal dari Tuhan. Kita adalah manajernya, bukan pemilik (1 Chron. 29:11-16; Luke 16:12).

(2) Menjaga pandangan yang tepat akan keamanan. Kita harus meletakan kepercayaan dalam Tuhan dan bukan pada investasi kita (1 Tim. 6:17).

(3) Hati-hati terhadap motive, prioritas, dan alasan yang tidak murni dan tidak Alkitabiah mengenai menabung seperti kekhawatiran dan menimbun karena ketidakamanan atau ketamakan (Matt. 6:25-33; Luke 12:13-31).

(4) Keputusan mengenai masa depan harus dibawa dalam doa dalam rangka kehendak Tuhan (James 4:13-15).

(5) Jangan menggunakan tabungan/investasi yang direncanakan Tuhan untuk pemberian. Ini muncul saat tabungan atau investasi menjadi ekstrim dan untuk alasan yang salah seperti yang dinyatakan diatas (Luke 12:16-21; 1 Tim. 6:18-19; 1 John 3:17).

(6) Menghindari investasi beresiko tinggi atau menjadi kaya dengan cara cepat (Prov. 21:5; 28:20, 22; 1 Tim. 6:9).

(7) Mengawasi prioritas. Menjadikan kerajaan Allah menjadi investasi nomor satu (Matt. 6:33; Luke 12:31; 1 Tim. 6:18-19).

Petunjuk Mengenai Pengeluaran

Kepuasan

Kita perlu belajar untuk puas (tergantung secara rohani akan detil hidup bagi kebahagiaan dan keamanan kita) dengan apa yang kita punya (Phil. 4:11-13; 1 Tim. 6:6, 17-19; Heb. 13:5). Saat kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki, kita bebas dari perbudakan materialisme. Ini artinya kebebasan mengikuti Tuhan; kebebasan mengusahakan nilai dan tujuanNya. Bagaimana seseorang bisa mendapatkan kepuasan? Kepuasan merupakan hasil dari memiliki harta sorgawi dan meletakan seluruh kepedulian seseorang pada kedaulatan Tuhan yang adalah Bapa Sorgawi kita (Matt. 6:19-33; 1 Pet. 5:6-7).

Godaan

Berjagalah terhadap godaan dan ajaran dunia (Rom. 12:1-2; 13:11-14; 1 Pet. 1:13-16; 5:8). Ada ratusan ajaran setiap hari yang menarik perhatian kita melalui pers, televise, radio, iklan, penjual, dan etalase—semua dibuat untuk mendorong kita membeli hal-hal yang tidak kita perlukan, dengan uang yang sebenarnya tidak kita punyai, untuk membuat kagum orang yang tidak kenal, dan mendapatkan kebahagiaan yang tidak kita temukan.

Mengevaluasi Pembelian Menurut Prinsip Alkitab

(1) Apakah kita bisa membayar tunai ataukah pembelian itu membuat kita harus berhutang? (lihat petunjuk mengenai Kredit.)

(2) Apakah kita memiliki kedamaian mengenai hal itu? (Rom. 14:23; Col. 3:15) Kita perlu mengawasi kedenderungan kita untuk merasionalisasi—memberikan jawaban menipu pada diri sendiri merupakan hal yang buruk.

(3) Apakah itu suatu kebutuhan atau ketamakan? (1 Tim. 6:9; 1 John 2:15) Apakah itu berguna bagi keluarga, pertumbuhan rohani, kesehatan, pelayanan, nama Tuhan, dan meningkatkan kasih kita pada Tuhan atau malah menghalangi semua itu? (1 Tim. 3:4: 5:8; 1 Cor. 6:12)

(4) Apakah gaya hidup kita itu cukup atau lebih dari cukup? Apakah kita perlu mengurangi pengeluaran kita dengan mengurangi standar kepuasan? (Matt. 6:33; Luke 12:15, 23; Prov. 15:16-17; 16:8; Eccl. 5:10-11).

Petunjuk Mengenai Kredit

Prinsip Dasar

(1) Tuhan lebih memilih pinjaman daripada meminjam karena itu menghasilkan kebebasan dan pelayanan yang bijak (Deut. 15:5-6).

(2) Peminjaman yang tidak bijak bisa membuat kita diperbudak (Prov. 22:7).

(3) Gunakan kredit sebijak mungkin dan hindari kredit sebisa mungkin. Walau tidak dihalangi oleh Alkitab, kredit pada umumnya dinyatakan dalam bentuk negative. Roma 13:8 sering digunakan sebagai halangan tetap untuk meminjam, tapi itu tidak langsung melarang penggunaan kredit. Itu hanyalah mengajarkan perlunya seseorang membayar hutangnya baik secara fisik atau rohani diwaktu harus membayar.

(4) Mengenai kredit ada 2 alternatif dasar: (a) Beli sekarang dengan kredit dan bayar bersama dengan bunga. (b) Tabung sekarang dan beli kemudian dengan tunai dan simpan bunganya.

Jaga Pinjaman Sekecil Mungkin

(1) Bunga menambah biaya hidup dan mengurangi kemampuan kita untuk melayani dengan baik. Jika kita harus meminjam, kita harus mencari bunga yang rendah dan jangka pendek.

(2) Kredit bisa berbahaya karena itu bisa memperbudak orang kepada kreditor dan keinginan mereka daripada keinginan Tuhan. Itu membuat dorongan untuk terus membeli lebih kuat. Sistem dunia sangat tergantung pada pembelian sebagai penenang kebosanan dan frustasi hidup.

(3) Kredit bisa digunakan sebagai pengganti kepercayaan pada Tuhan atau mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa menungguNya. Kita menggunakan itu untuk mengurangi ketergantungan pada Tuhan. Kenapa? Karena kita sering takut Dia tidak memberikan apa yang kita inginkan saat kita menginginkannya (Ps. 37:7-9, 34; 147:11; Matt. 6:30-34; Phil. 4:19).

(4) Kredit mengurangi kemampuan kita memberi pada Tuhan dan mereka yang membutuhkan.

(5) Penggunaan kredit sering merupakan kegagalan untuk puas dengan apa yang telah kita miliki (dosa ketidakpuasan) (Phil. 4:11; 1 Tim. 6:6-8; Heb. 13:5). Orang yang materialistis tidak pernah puas, tapi yang didalam Tuhan belajar untuk cukup.

Apa yang ‘Jangan’ dalam Meminjam

(1) Jangan membeli sesuatu dengan kredit jika itu akan menghancurkan kebebasan keuangan kita.

(2) Jangan berhutang sekarang atas alasan masa depan (seperti kenaikan harga atau penjualan yang lebih baik). Ini menyalah gunakan Tuhan dan kedaulatanNya.

(3) Jangan berhutang untuk rumah sebelum anda memiliki sumber pendapatan (Prov. 24:27).

(4) Jangan untuk kebutuhan sehari-hari, pengeluaran sehari-hari, atau untuk kesenangan.

(5) Jangan menggunakannya untuk hal-hal yang berkurang nilainya dengan cepat, kecuali jangka waktunya sangat pendek (yaitu, 30-90 hari).

(6) Mengenai barang benilai, seperti rumah atau investasi bisnis, jangan meminjam diluar kemampuan anda menguangkan obligasi melalui jaminan yang cukup ditambah nilai barang jika itu dijual.

(7) Jangan mengijinkan hutang (tidak termasuk gadai) lebih dari 20 percent take-home pay. Ambil yang 10 persen atau kurang.

(8) Jangan ijinkan pembayaran gadai (termasuk insuransi dan pajak) lebih dari 25 atau 30 persen take-home pay.

Pertanyaan yang Diperlukan Sebelum Meminjam

(1) Apakah saya benar-benar membutuhkannya?

(2) Apakah saya telah meminta Tuhan untuk itu dan menunggu cukup lama untuk dijawab olehNya?

(3) Apakah saya tidak sabar dan ingin memuaskan kesenangan secepatnya?

(4) Apakah Tuhan menguji iman, nilai, motive saya, dll.?

(5) Apakah saya tidak membelanjakan uang yang Tuhan sediakan untuk barang itu dengan baik atau melanggar prinsip keuangan Tuhan?

(6) Apakah saya bersalah karena:

    · Pelit: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan” (Prov. 11:24; 11:25-27).

    · Terburu-buru: “Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman” (Prov. 28:20).

    · Kemalasan: “maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata” (Prov. 24:34).

Petunjuk dalam Memberi

Tuhan Mengharapkan Kita untuk Memberi

(1) Melalui Karya AnugrahNya: Melalui hubungan dengan Dia, memberi merupakan hasil karya anugrah Tuhan dalam hidup sehingga itu menghasilkan komitmen hidup seseorang pada Tuhan dengan pemberian yang mengalir keluar dari komitmen itu (2 Cor. 8:1-2, 6-7; 9:9-11).

(2) Dalam Iman: Dia telah berjanji untuk mencukupi seluruh kebutuhan kita; pemberian kita tidak akan menjadikan kita kekurangan (2 Cor. 9:7f; Phil. 4:19).

(3) Dengan Memiliki Tujuan: Kita memberi dengan perencanaan yang seksama dan dibawa dalam doa. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya” (2 Cor. 9:7).

(4) Secara Teratur: “Dihari pertama setiap minggu” menolong untuk mendorong ketekunan dan disiplin dalam memberi. Ini menciptakan konsistensi dan keteraturan yang menyatakan niat kedalam tindakan (1 Cor. 16:2).

(5) Secara Pribadi: “Biarlah setiap kamu” memenuhi kebutuhan setiap orang percaya dengan membuat pemberian sebagai tanggung jawab pribadi yang diberikan Tuhan (1 Cor. 16:2).

(6) Secara Sistematis: “sisihkan dan simpan” menimbulkan kebutuhan untuk memiliki metode atau system dimana uang untuk pekerjaan Tuhan secara khusus disisihkan, disimpan untuk diberikan, sehingga tidak digunakan untuk hal lain (1 Cor. 16:2).

(7) Secara Proporsional: Dalam Perjanjian Baru, menyisihkan sebagian untuk diberikan (sebagai persepuluhan) telah digantikan oleh prinsip anugrah pemberian, secara sukarela, bertujuan, dan proporsional. Standar baru sekarang ini adalah “sesuai berkatNya (1 Cor. 16:2), “memberi menurut kemampuan mereka” (2 Cor. 8:3), “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.…” (cf. 2 Cor. 8:12-15, Mark 12:41-44), dan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan” (2 Cor. 9:7).

Kepada Siapa Kita Harus Memberi?

Gereja Lokal

“Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (Gal. 6:6; cf. juga 1 Tim. 5:17-18). Jika gereja local akan membentuk pusat pelayanan keluar, maka sudah sewajarnya jika itu menjadi prioritas pertama anda dalam memberi.

Organisasi lain dan Individu

Ini termasuk misi, kelompok para-church dan individu yang terlibat dalam pelayanan ini (3 John 5-8).

Sesama Orang Percaya yang Membutuhkan

Mereka yang tidak mampu menyokong diri sendiri atau yang menghadapi masalah serius harus ditolong sebisa mungkin. Mereka yang menolak bekerja jangan didukung (1 John 3:17; Jam. 2:15-16; Gal. 6:10; Heb. 10:33-34; 13:1-3 with 2 Thess. 3:6-10).

Orang Belum Percaya yang Membutuhkan

Prioritas pertama kita adalah mereka yang seiman, tapi kita juga menjangkau orang lain yang membutuhkan sebisa mungkin (Gal. 6:10).

Persepuluhan dalam Perjanjian Lama

Kata “persepuluhan” artinya “sepersepuluh” Dalam Perjanjian Lama, ada bukti bahwa orang kudus dalam OL diwajibkan memberikan setidaknya 2 perpuluhan dan mungkin tidak perpuluhan setiap tahun.

(1) Pertama adalah sepersepuluh dari seluruh milik seseorang (Lev. 27:30-33). Ini akan diberikan kepada orang Lewi untuk pelayanan dibait (Numb. 18:20-21).

(2) Perpuluhan kedua diambil dari apapun yang dihasilkan setelah perpuluhan pertama diberikan. Perpuluhan ini untuk hari raya Tuhan dan korban (Deut. 12:17-18; 14:22). “Perintah ini bagi orang Yahudi ditafsirkan sebagai perpuluhan kedua (lihat Lev. 27:30 dan Num. 18:21 untuk yang pertama; juga perhatikan Mal. 3:8), yang dibawa ketempat kudus baik dalam bentuk uang atau bukan. Kelihatannya pemberi persembahan bisa menggunakan sebagian dari perpuluhan ini untuk perayaan ditempat kudus (vv. 26-27).”1

(3) Perpuluhan yang lain diambil setiap tiga tahun untuk kesejahteraan orang Lewi, orang asing, yatim piatu dan janda (Deut. 14:26-29). Perpuluhan ketiga ini terpisah dari yang kedua, walau kita tidak tahu secara pasti. Rata-rata, setiap keluarga Yahudi bertanggung jawab memberi tidak hanya sepuluh persen, tapi kira-kira 19 persen.

Jika perpuluhan merupakan kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya sekararang ini, maka orang percaya yang hanya memberi sepuluh persen masih kurang dalam memberi.

Karena perpuluhan diwajibkan dalam PL, itu lebih seperti pajak pendapatan daripada suatu pemberian dibawa kerajaan Tuhan atas Israel. Kenyataannya, PL sering bicara mengenai “perpuluhan dan persembahan” sehingga ada perbedaan. Frieson berkata, “Itulah alasannya kenapa kegagalan untuk melakukan ‘seluruh perpuluhan” bisa digambarkan sebagai merampok Tuhan.”2 Jika salah satu umat Tuhan ingin menyatakan ibadahnya dengan secara sukarela memberi, itu haruslah diluar dan diatas kedua perpuluhan dari pendapatan yang dimiliki (Deut. 16:6, 11; 1 Chron. 29:6, 9, 14).

Memberi dalam Perjanjian Baru

Ada bukti kuat bahwa perpuluhan itu bukan untuk orang percaya masa kini. Ada orang percaya yang mengajarkan perpuluhan, tapi mereka bergantung pada teologi PL yang tidak diaplikasikan oleh gereja sekarang. Berikut ini adalah bukti yang mendukung pendapat ini.

Perpuluhan dalam PL merupakan bagian dari system ekonomi dari Hukum tapi PB secara khusus mengajarkan bahwa orang percaya tidak dibawa hukum taurat (Rom. 6:14; 7:4, 6; 8:3; 2 Cor. 3:11; Gal. 3:19-25; 4:21-31). Ada penekanan ganda disini.

(1) Orang percaya tidak dibawa system ekonomi, social, atau keagamaan hukum PL. Hukum taurat merupakan system sementara sampai Kristus datang. Kedatangan Kristus dan Perjanjian yang Baru, seperti yang diaplikasikan dalam gereja, menggantikan PL dengan hukum yang lebih tinggi, hukum Roh Kehidupan Kristus Yesus yang memampukan orang percaya memenuhi persyaratan rohani Hukum taurat melalui bimbingan Roh daripada melalui tuntutan aturan hukum.

(2) “Hukum” dalam Romans 6:14 adalah anarthrous. Itu suatu yang kualitatif. Itu tidak hanya bicara mengenai satu hukum tertentu, seperti Hukum PL, tapi hukum apapun. Ini artinya kita tidak dibawah system aturan apapun atau aturan hukum apapun dalam hubungan dengan Tuhan. Tapi itu tidak berarti kita tidak ada aturan, kita ada dibawa hukum Kristus (1 Cor. 9:21; Gal. 6:2), standar berapa banyak kita memberi pada gereja sekarang ini bukanlah jumlah yang ditentukan oleh hukum tertentu atau dari suatu bentuk paksaan. Ini bisa termasuk perpuluhan baik dibawa Hukum atau sebelum Hukum, karena disaat jumlah tertentu dibuat, itu akan menjadi hukum bukan lagi masalah seseorang yang dibimbing oleh Roh Tuhan dalam memberi (Rom. 8:14; Gal. 5:1, 18, 24, 25).

PB mengajarkan kita bahwa memberi untuk gereja adalah sesuai dengan anugrah atau bimbingan Tuhan melalui Roh (2 Cor. 8:1-3, 7; 1 Cor. 16:2; 9:7). Sejalan dengan konsep ini, saat kita masuk kedalam PB kita tidak menemukan aturan PB atau perintah yang meneruskan perpuluhan bagi orang percaya dalam PB. Kata “perpuluhan” tidak pernah digunakan dalam PB sebagai perintah atau aturan bagi gereja. Kenyataannya, itu hanya digunakan sebagai referensi sejarah yang diberikan pada Israel dimasa PL, tapi tidak pernah menunjukan itu menjadi aturan hidup bagi gereja.

Matthew 23:23; Luke 11:42. Kedua bagian Alkitab ini diperuntukan untuk Israel. Kristus bicara kepada orang Yahudi yang masa itu masih dibawa hukum. Mereka juga memberi korban dibait.

Luke 18:12 hanya merupakan referensi sejarah mengenai doa farisi yang merasa diri benar yang masih dibawah hukum dan menanti kedatangan Roh dan dimulainya zaman gereja.

Hebrews 7:5-9 merupakan referensi sejarah kepada Abraham yang memberi perpuluhan pada Melkizedek. Sebagian orang menggunakan ini sebagai bukti kalau perpuluhan masih sah untuk masa kini. Mereka melihat itu sebagai hukum awal, jadi itu harus digunakan sebagai petunjuk bagi semua pembagian. Tapi ada dua hal yang salah dengan alasan diatas:

Praktek PL lainnya mendahului hukum, tapi mereka tidak digunakan sebagai norma atau syarat bagi gereja. (a) konsep hari Sabat lebih dulu dari hukum (cf. Heb. 4:3-9), tapi itu diganti dengan hari pertama setiap minggu, dan itu tidak dipakai sebagai aturan hukum. (b) Sunat juga lebih dulu dari hukum (cf. Rom. 4:9-13), tapi digantikan oleh baptisan. (c) demikian juga dengan perpuluhan lebih dulu dari hukum (Heb. 7:5-9), telah digantikan oleh pemberian yang proporsional (1 Cor. 16:2). Untuk tetap memakai perpuluhan merupakan ketidaktaatan terhadap perintah 1 Corinthians 16:2.

Memberi sesuai dengan perpuluhan merupakan halangan bagi pemberian sesuai anugrah yang digambarkan dalam PB. Biar saya jelaskan.

Banyak orang percaya memberi perpuluhan mereka dan tidak pernah melihat kalau mereka bisa (dan mungkin harus) memberi lebih. Sebenarnya, menuntut perpuluhan kepada semua orang percaya tidak sesuai dengan prinsip yang dinyatakan dalam 2 Corinthians 8:12-15 karena perpuluhan menjadi kuk yang tidak sepadan. Maksud saya itu akan menjadi beban bagi sebagian orang, dan pembatasan untuk memberi lebih sesuai dengan prinsip pemberian secara proporsional, sesuai apa yang didapat. (1 Cor. 16:1-2). Tolong perhatikan yang berikut ini:

(1) Memberikan sepuluh persen bagi seseorang bisa merupakan “menabur dengan hemat” jika dia memberi secara proporsional.

(2) Memberikan sepuluh persen bagi orang lain bisa jadi “menabur dengan berlimpah” jika dia memberi secara proporsional.

(3) Memberi sepuluh persen bagi seseorang bisa jadi memberi diluar kemampuan mereka dan bisa merupakan pemberian dengan pengorbanan, memberi “sesuai dengan apa yang tidak mereka miliki” (cf. 2 Cor. 8:12; 9:6).

(4) Maksudnya, sebagian merasa mudah melaksanakan tanggung jawab mereka karena kelimpahan mereka dan yang lain tersiksa oleh perpuluhan karena kekurangan mereka (2 Cor. 8:13).

(5) Pemberian yang proporsional dalam PB menghilangkan hal diatas dan membawa apa yang Paulus sebut “keseimbangan” (2 Cor. 8:14-15). Lihat ilustrasi dibawah menyangkut pemberian yang proporsional.

(6) Ini artinya untuk menjadi pelayan yang baik atas pemberian Tuhan, semakin makmur seseorang dia harus memberi dengan berlimpah, tidak hanya dalam dollar tapi secara persentasi (20, 30 persen atau lebih), walau yang kurang memberi persentasi yang kecil, seseorang ditentukan melalui persekutuannya dengan Tuhan. Mereka mungkin memutuskan untuk memberi dengan berkorban seperti yang dilakukan orang Makedonia, tapi itu harus merupakan karya Roh Tuhan dan bukan tuntutan aturan gereja yang menuntut perpuluhan. Jelas, perpuluhan merupakan kuk yang tidak seimbang. Pikirkan itu. Jika anda memberi perpuluhan, anda mungkin menabur dengan hemat.

Pemberian yang Proporsional

Pertanyaannya adalah, apa artinya memberi secara proporsional? Bagaimana itu menentukan berapa banyak yang harus diberi? Sangat mudah menentukan sepuluh persen dari sesuatu, tapi berapa banyak itu “sekehendak hatinya,” atau “sebanyak dia diberi,” atau “semakmurnya dia,” atau “jika ada kemauan maka baiklah memberi menurut apa yang didapat …” Sebanyak apa itu?

(1) Itu bukan suatu jumlah tertentu, atau persentase tertentu, tapi suatu proporsi didasarkan atas apa yang dimiliki seseorang, kebutuhan seseorang, dan kebutuhan orang lain, termasuk pekerjaan Kristus atau pelayanan gereja lokal.

(2) Mereka yang memiliki sedikit juga memberi semampu mereka (2 Cor. 8:2-3).

(3) Mereka yang tidak memiliki apapun, jika ada kerelaan, tidak diharapkan memberi apapun (2 Cor. 8:12).

(4) Mereka yang kurang (kebutuhan pokok) akan menerima dari mereka yang lebih sehingga ada keseimbangan (2 Cor. 8:13-15). Ini bukan socialism atau komunisme yang memaksa dan mengusahakan adanya kesamaan diluar keragaman lingkungan dalam bekerja, bakat, dan insentif pribadi (cf. 2 Tim. 6:17f).

(5) Tuhan tidak meminta mereka yang memiliki banyak untuk menjadi miskin atau membebadi mereka yang kaya (2 Cor. 8:13). Keseimbangan yang dinyatakan dalam pemberian yang proporsional ada 2 sisi: (a) Meliputi bantuan untuk menolong orang yang membutuhkan sampai mereka mampu secara keuangan melalui bekerja (Eph. 4:28; 2 Thess. 3:10-15). Kita tidak memberi sehingga orang lain bisa hidup enak atau memiliki standar hidup yang sama dengan semua orang. (b) Ini menciptakan keseimbangan dalam pengertian bahwa mereka yang kurang memberi sesuai kemampuan demikian juga yang mampu sesuai dengan kemampuannya.

(6) Mereka yang berkelimpahan harus kaya dalam pekerjaan baik, mereka harus menggunakan kelimpahannya dengan bebas untuk Kristus (2 Cor. 8:14; 2 Tim. 5:17-18).

(7) Kemakmuran yang meningkat janganlah menghasilkan standar hidup yang terus meninggi, atau pengeluaran yang percuma,tapi peningkatan dalam memberi, tidak hanya jumlah tapi dalam persentase. Jika orang percaya masa kini berkomitmen pada pemberian yang proporsional, banyak orang yang akan memberi lebih dari sepuluh persen. Statistik menunjukan, sebagian besar orang percaya memberi kurang dari 3-5 persen.

Definisi Pemberian yang Proporsional

Pemberian yang proporsional adalah pemberian yang sesuai dengan berkat Tuhan, sebagai pelayan yang ingin menginvestasikan hidupnya dalam kekayaan surgawi. Pemberian yang proprosional tidak berarti memberi lebih, tapi memberi sebagian besar dari pendapatan seseorang—bagian terbesar diberikan untuk pekerjaan Tuhan.

Dalam Pemberian yang Proporsional:

(1) MOTIF KITA dalam memberi adalah berkat Tuhan, untuk meningkatkan buah dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan (2 Cor. 9:8-15).

(2) UKURAN KITA dalam memberi adalah berkat material dari Tuhan (1 Cor. 16:2).

Ilustrasi mengenai Pemberian yang Proporsional

Orang percaya A memiliki pendapatan $20,000 setahun dan dia memberi sepuluh persen yaitu $2,000. Orang percaya B memiliki pendapatan $50,000 setahun dan memberikan sepuluh persen yaitu $5,000. Orang percaya B telah memberi $3,000 lebih banyak dalam setahu tapi ini tidak proporsional karena Orang percaya A hanya memiliki $18,000 untuk dihidupi dan Orang percaya B masih memiliki $45,000, dua kali lebih banyak. Orang percaya B bisa memberi 20 persen ($10,000) dan masih memiliki $40,000 tetap dua kali lebih banyak dari Orang percaya A. Orang percaya B tidak hanya harus memberi lebih banyak tapi secara proporsi juga harus lebih banyak.

Janji untuk Pemberi yang Murah Hati

Luke 16:10-11: Umumnya, Tuhan tidak mempercayakan kekayaan yang lebih banyak pada kita sampai kita terbukti setia dengan apa yang kita punya sekarang.

Second Corinthians 9:8-11: Pemberian kita tidak akan membuat kita kekurangan; Tuhan tidak saja menyediakan apa yang telah kita berikan, tapi dia akan meningkatkan kemampuan kita dalam memberi saat kita memberi dengan limpah. Tujuannya disini bukan untuk meningkatkan kekayaan pribadi, tapi pemberian.

Tantangan Alkitab Mengenai Kekayaan Duniawi

Dimana Harta Kita?

Prinsip Dasar: Apa yang kita kumpulkan menentukan cara pandang kita akan nilai hidup (Matt. 6:22-23).

Pandangan Alkitab: Harta kita ada disorga (Matt. 6:19-20).

Alasan Alkitab:

(1) Harta kita permanent disorga (Matt. 6:20; 1 Pet. 1:4).

(2) Harta dibumi itu sementara dan bisa hilang. Kita tidak bisa membawa harta dunia kita kesorga (Luke 12:20-21; 1 Tim. 6:7).

(3) Harta dunia kita tidak memuaskan karena tidak bisa membeli kebahagiaan sejati (Isa. 55:1-3; Luke 12:15, 23; Eccl. 5:10).

(4) Harta dunia kita tidak bisa memperpanjang hidup atau memberikan keamanan (Luke 12:16-21).

(5) Harta kita menentukan prioritas kita. Tanpa harta yang benar, kita akan mengejar hal yang sala dan menyia-nyiakan hidup kita (Matt. 6:21; Luke 12:34; 1 Tim. 6:9-10; Luke 19:23-26).

(6) Harta terbesar kita adalah kesalehan yaitu rasa cukup (1 Tim. 6:6; Heb. 13:5; Phil. 4:11-12; Prov. 15:17; 16:8; 17:1).

Penjelasan Alkitab: Harta sorgawi terdiri dari mahkota, upah, dan tanggung jawab yang diberikan pada orang percaya dikursi penghakiman Kristus bagi pelayan yang setia (Luke 19:16-19; 1 Cor. 3:12-15; 9:25; 1 Thess. 2:19; 2 Tim. 4:8). Harta terutama adalah Tuhan dimuliakan (1 Pet. 4:11; Rev. 4:9-11).

Siapa Tuan Kita?

Seorang pelayan tidak bisa melayani dua tuan. Kita tidak bisa melayani Tuhan dan Mammon (materialisme) sekaligus (Luke 16:1-13, cf. Matt. 6:24).

Alasan Alkitab: Tidak mungkin melayani dua tuan disaat yang sama. “ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain” (Luke 16:13).

Pandangan Alkitab:

(1) Luke 16:1-2: Hidup adalah pelayanan dan kita adalah pelayan Tuhan yang bertanggung jawab atas pelayanan yang dipercayakan pada kita. Berhenti berpikir seperti pemilik. Mulai berpikir seperti manajer.

(2) Luke 16:1, 11-12: Kita memboroskan investasi Tuhan dalam hidup kita atau menginvestasikannya dengan bijak bagi kemuliaanNya?

(3) Luke 16:10: Uang, dalam nilai sejatinya, merupakan hal “kecil”, tapi, kesetiaan dalam hal kecil (uang) merupakan tanda kesetiaan kita dalam hal besar (nilai kekal).

(4) Luke 16:11: Penggunaan uang adalah ujian dari kesetiaan kita.

(5) Luke 16:11: Uang tidak menunjukan kekayaan yang sebenarnya.

(6) Luke 16:12: Uang harus digunakan secara bijak dan setia sebagai bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan.

(7) Luke 16:12: Uang dan pendapatan, jika kita tidak hati-hati, bisa menjadi tuan kita.

Tantangan Alkitab:

(1) Apakah saya budak uang dan harta duniawi? Apakah mungkin saya tidak mengetahuinya? Kita harus memilih antara melayani uang atau Tuhan!

(2) Apakah saya mengorbankan kualitas seperti Kristus dan tanggung jawab dalam mengejar harta dunia? (a) hati nurani yang murni; (b) kejujuran, moral; (c) Persahabatan; (d) Kehidupan keluarga (istri, suami, anak, saudara); (e) Reputasi; (f) Kemuliaan Tuhan, dll.

(3) Apakah saya lebih peduli pada harta dunia dan masalah keuangan daripada hubungan saya dengan Tuhan dan kerajaan sorga? (a) Prioritas; (b) Penggunaan waktu, bagaimana dan dimana itu dihabiskan; (c) Apa yang paling saya pikirkan—uang dan bagaimana menghabiskannya atau Tuhan dan iman saya kepadaNya?

(4) Apakah saya mencari uang dan harta dunia (prestige, kuasa, kedudukan, kesenangan, kepemilikan, dll.) semua itu bisa Tuhan berikan? (a) Kebahagiaan, sukacita sejati; (b) Kepuasan; (c) Damai dalam Pikiran; (d) Keamanan; (e) Tujuan dan arti hidup.

Jika jawaban anda ya, maka uang telah menjadi tuan atasmu!

Kesimpulan

Setelah mempelajari prinsip ini, tanyakan hal ini: Apakah saya mau memberi diri pada konsep ini sebagai cara hidup untuk menjadi pelayan Tuhan yang baik? Biarlah Tuhan menjauhkan kita dari patung lembu emas materialisme.

Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. (1 Pet. 1:17-19).


1 Ryrie Study Bible, Expanded Edition, NASB, footnote, p. 298.

2 Garry Frieson, Decision Making and the Will of God, Multnomah Press, Portland, 1980, p. 357.

Related Topics: Tithing, Finance