MENU

Where the world comes to study the Bible

Kejarlah Anggur Itu!

Related Media

Penerjemah: Yoppi Margianto

Terus-menerus kita harus diingatkan bahwa doa yang diajarkan Tuhan dimulai dengan “Bapa kami” dan bukan “Kebutuhan kami”. Doa melibatkan, yang pertama dan terutama, adalah akses kepada hadirat Allah. C.S. Lewis pun mendapatkan pemahaman yang sama. Ketika mendiskusikan suatu pertanyaan tentang apakah doa bermanfaat, secara halus ia menjelaskan:

“Pertanyaan ‘Apakah doa bermanfaat?’ membawa kita kepada bingkai pemikiran yang salah sejak awal. ‘Manfaat’: seolah-olah itu adalah magic, atau sebuah mesin—sesuatu yang berfungsi secara otomatis. Apakah doa itu ilusi belaka, ataukah suatu hubungan pribadi antara pribadi-pribadi yang tak sempurna (kita) dan Pribadi yang sungguh-sungguh konkrit? Memohon atau meminta sesuatu, sesungguhnya adalah bagian kecil dari doa. Pengakuan dan penyesalan adalah pintu masuknya, pemujaan adalah tempat kudusnya, kehadiran dan visi dan sukacita dari Allah adalah anggurnya. Di dalam doa Allah menunjukkan diri-Nya bagi kita. Bahwa Ia menjawab doa, itu merupakan akibat yang wajar—dan tidak mesti menjadi suatu yang terpenting—dari penyataan diri-Nya. Apa yang dilakukan-Nya dapat kita kenal dari siapa Dia.”1

Di sini tidak dikatakan, ataupun menjadi suatu ide yang didukung Allah, bahwa meminta sesuatu kepada-Nya adalah salah. Tidak sama sekali. Tetapi, bila kita datang kepada-Nya hanya untuk apa yang kita dapat peroleh dari-Nya atau pertama-tama, untuk apa yang dapat Ia berikan kepada kita, itu baru merupakan sebagian kecil dari kekristenan kita. Kesalahan yang sama seperti ini dibuat oleh orang-orang yang gemar akan janji-janji Allah sementara mereka menjauhkan diri dari sang Pemberi janji yang ingin dikenal secara pribadi sebagai Satu yang Setia. Orang-orang ini menginginkan pemberian, bukan menginginkan Pemberinya. Mereka menjalani pemujaan dan hadirat dan visi Allah untuk sesuatu yang kurang berarti.

Karena itu, makna doa sesungguhnya adalah mengenal-Nya secara intim. Memang jawaban atas doa itu diperlukan, tetapi terlebih penting adalah persekutuan kita dengan-Nya dan sukacita akan hadirat-Nya. Persekutuan kita dengan-Nya, berakar dari pemahaman kita akan Dia. A.W. Tozer berkata:

“Apa yang terlintas di pikiran kita ketika kita memikirkan tentang Allah adalah hal yang terpenting dari kita… Pertanyaan yang paling penting bagi gereja selalu adalah Allah sendiri, dan kenyataan yang paling penting bagi setiap manusia bukanlah bahwa ia dapat berkata atau berbuat ini itu, melainkan bagaimana pemahamannya akan Allah… Yang selalu menjadi hal yang terlihat jelas tentang gereja adalah ide tentang Allah, sama seperti pesan gereja yang paling penting juga adalah tentang Dia… Bila kita dapat meringkas jawaban yang lengkap dari siapapun atas pertanyaan, ‘Apa yang terlintas di pikiranmu ketika engkau memikirkan tentang Allah?’, maka kita akan mampu memastikan masa depan rohani dari orang itu. Bila kita mampu mengetahui dengan tepat apa yang dipikirkan oleh pemimpin-pemimpin gereja kita yang paling berpengaruh, kita akan mampu dengan akurat meramalkan bagaimana gereja kita akan berdiri di masa datang.”2

Pemahaman kita akan Allah adalah sungguh-sungguh penting bagi hubungan kita dengan-Nya, dan terutama bagi kehidupan doa kita. Doa dibawa kepada Allah dalam iman. Iman yang bertumbuh, bergantung pada pemahaman kita akan Allah. Karena itu, semangat doa kita bergantung secara langsung pada pemikiran dan pengenalan kita secara pribadi akan Allah.

Hal ini mungkin menjawab pertanyaan mengapa hanya ada sedikit doa yang sejati di dalam gereja kita hari-hari ini. Kita tidak tekun memikirkan tentang Allah kita, dan bahkan menurut polling penginjilan yang terbaru, kita juga tidak serius memikirkan tentang Dia.3

Di sini saya tidak memaksudkan “pengenalan” sebagai penguasaan sistematis akan garis besar teologis dan rinciannya, meskipun hal itu jelas diperlukan. Melainkan, saya maksudkan sebagai suatu pemahaman yang dalam dan teologis akan Allah, diri kita dan dunia kita, sebagaimana yang diserap oleh hati kita melalui pelajaran Alkitab, meditasi, doa dan penyembahan, dan saat-saat pencobaan.

Namun ingatlah bahwa jarak antara kepala dan hati manusia hanya sekitar 12 inci, dan saluran yang menghubungkan keduanya tidaklah lebih lebar dari sebatang jerami. Solusinya adalah: Bertobat dan percayalah!—Percaya yang dinyatakan dalam ketaatan kepada Allah atas firman-Nya. Kita juga harus merefleksikan apa yang dikatakan para pengajar kita di gereja tentang Allah baik dahulu maupun sekarang. Namun kita harus melakukan semua itu dengan kerendahan hati dan meditasi yang cukup, tidak hanya kita memenuhi otak kita dengan pengetahuan, tetapi kita sungguh-sungguh ditarik ke dalam pengalaman yang lebih jauh, dalam persekutuan kita dengan Juruselamat kita! Kita harus mengejar Allah yang terutama! Kita harus mengejar anggur itu, seperti dikatakan oleh C.S. Lewis. Tertarikkah Anda akan hal itu?


1 C. S. Lewis, “The Efficacy of Prayer,” dalam Fern-seed and Elephants and Other Essays on Christianity, ed. Walter Hooper (Glasgow: Collins, 1975), 101.

2 A. W. Tozer, Knowledge of the Holy (Harper & Row, San Francisco, 1961), 1-2.

3 Lihat Os Guinness, Fit Bodies, Fat Minds: Why Evangelicals Don’t Think and What To Do about It (Grand Rapids: Baker, 1994); Mark Noll, The Scandal of the Evangelical Mind (Grand Rapids: Eerdmans, 1994).

Related Topics: Prayer, Devotionals