Where the world comes to study the Bible

Kasih Allah: Lagu Kita yang Abadi!

Related Media

Penerjemah: Yoppi Margianto

Hati Allah penuh dengan kasih dan di pusat hati-Nya itu berdiri salib. Salib itu—barang yang hina yang dipakai Allah untuk memenuhi tuntutan hukum-Nya sendiri (yakni, kekudusan-Nya), telah menjangkau kita orang-orang berdosa ini. Hukum Allah telah menetapkan bahwa hukuman atas dosa adalah maut (Roma 6:23). Karena itulah Kristus membayar hukuman itu menggantikan tempat kita. Rasul Yohanes berkata, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:10). Paulus pun berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Petrus juga mengatakan hal yang sama, “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah” (1 Petrus 3:18).

Yesus Kristus hidup dengan sempurna dan tanpa dosa (Ibrani 4:15) dan dengan taat memberikan nyawa-Nya kepada Allah sebagai tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45). Tuntutan yang sempurna dan utuh dari hukum Taurat telah dipenuhi di dalam Dia, dan kematian-Nya membayar hukuman atas dosa-dosa kita (Ibrani 9:28). Murka Allah telah benar-benar dipuaskan, dan kasih-Nya mengalir dengan bebas ke atas tanah yang telah tertumpah dengan darah itu. Kasih Allah dinyatakan dalam anugerah dan belas kasih-Nya yang dicurahkan-Nya dengan berlimpah atas orang-orang pilihan-Nya (Efesus 1:4). Dia berjanji untuk menyambut dan memeluk dengan kasih, semua orang yang datang kepada-Nya dalam iman.

Karena itulah, kita harus percaya hanya kepada-Nya demi keselamatan kita dan hidup kekristenan kita. Sebagaimana dikatakan Paulus, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20). Dia telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2 Korintus 5:15; lihat juga Yohanes 14:21-23, 15:10). Betapa luar biasa kasih itu! Betapa luar biasa belas kasihan itu! Betapa kasih Allah telah menarik hati kita, memuaskan jiwa kita yang merana, dan memenuhi keberadaan kita dengan pengharapan yang kekal!

Ketika Louis Lawes menjadi sipir Penjara Sing Sing di tahun 1920, penghuni penjara semuanya dalam keadaan yang menyedihkan. Kondisi ini mendorongnya untuk membuat suatu gerakan kemanusiaan. Ia membawa juga isterinya, Kathryn, untuk membantu merawat para narapidana ini secara manusiawi. Kathryn sering membawa ketiga anaknya untuk duduk bersama para gangster, para pembunuh, dan pemeras, dan bersama-sama mereka sering bermain basket dan bisbol.

Tahun 1937, Kathryn tewas dalam kecelakaan lalulintas. Keesokan harinya jenazahnya dibaringkan di dalam peti di rumahnya, kira-kira seperempat mil jaraknya dari penjara itu. Pada waktu sang sipir mendapati bahwa para narapidana telah berkerumun di sekitar gerbang utama penjara tersebut, ia segera mengetahui apa yang mereka inginkan. Setelah membuka pintu gerbang, ia berkata, “Saudara-saudara, aku percaya kepada kalian. Kalian boleh pergi ke rumahku.” Tidak ada pengawas, tidak ada penjaga. Namun tidak ada seorangpun yang menggunakan kesempatan untuk melarikan diri malam itu. Kasih terhadap orang yang mengasihi mereka telah membuat mereka menjadi orang-orang yang dapat dipercaya.

Begitu juga dengan kasih Allah yang telah dicurahkan di dalam hati kita (Roma 5:5). Karena desakan kehadiran Allah dengan kasih-Nya di dalamku, aku sungguh tidak dapat meneruskan kejahatanku dan jalan-jalanku yang berdosa. Kasih-Nya yang kekal itulah yang telah menenangkan hatiku yang gelisah, meredam kekerasan hatiku, mendorongku untuk menerima rancangan-Nya atas hidupku. Kasih-Nya membawaku masuk ke dalam tempat kudus-Nya, di mana aku menemukan kesembuhan yang sejati, pertolongan yang kekal, dan pengharapan yang pasti. Kasih Bapa yang begitu besar itulah yang mengutus Kristus sampai kepada salib demi aku, menanggung hukuman yang didatangkan oleh dosaku. Sudahkah aku percaya hanya kepada-Nya untuk pengampunanku? Ataukah aku tetap menunda keputusan itu? “Sekarang telah tiba waktu keselamatan itu,” kata Paulus. Maukah Anda percaya Kristus hari ini? Sekarang juga?

Banyak orang mengatakan bahwa mereka telah menanggapi kasih Kristus, tetapi kenyataannya mereka masih hidup jauh dari-Nya. Sebagaimana dalam hubungan yang lainnya, pilihan yang kita buat seringkali memisahkan kita dari orang yang sangat mengasihi kita dan dengan tulus menghendaki kehadiran dan persahabatan kita. Selama kita tidak mempedulikan ajakan Allah untuk bersahabat dengan-Nya, dengan mengejar agenda kita sendiri, rencana dan jadwal-jadwal kita sendiri, sesungguhnya kita sedang menjauhkan diri kita dari-Nya, menghempaskan pengharapan kita, dan menutup rapat masa depan kita dari campur tangan-Nya.

Jadi hati-hatilah supaya Anda tidak “bermain-main” dalam mempercayai Kristus. Orang-orang seperti ini adalah seumpama gadis muda yang sedang didekati oleh seorang pria yang sangat mencintainya. Ketika keduanya duduk bersama memandangi danau yang indah, pria muda itu mengungkapkan isi hatinya kepadanya: “Sayang,” katanya, penuh kasih sayang, “Aku ingin engkau tahu bahwa aku mencintaimu lebih daripada apapun di dunia ini. Aku ingin menikah denganmu. Aku bukan orang kaya; aku tidak punya kapal pesiar atau Rolls-Royce seperti Johnny Brown,1 tetapi aku mencintaimu dengan segenap hatiku.” Sang gadis berpikir beberapa saat, kemudian membalas, “Aku mencintaimu juga dengan sepenuh hatiku, tetapi tolong ceritakan kepadaku tentang Johnny Brown.” Kasih Kristus memanggil kita kepada kesetiaan, dan seperti para narapidana di Sing Sing, kasih itu akan menghasilkan ketaatan sejati di dalam diri kita. Orang-orang yang telah mengecap kasih Kristus tidak akan tertarik lagi dengan pembicaraan tentang Johnny Brown!

Kasih Allah amat besar

Dan tak dapat dilukiskan,

Lebih tinggi dari bintang

Namun mencapai dunia;

Mengaruniakan Anak-Nya,

Memberi kemenangan,

Mendamaikan dan mengampuni

Orang-orang berdosa.

 

Walau dengan dawat selaut

Langit dijadikan kertas,

Tiap batang sebagai pena

Dan tiap orang penulis,

Tak mungkin akan melukiskan

Kasih Allah yang besar,

Langit dari timur ke barat

Tak akan memuatnya

 

Kasih Allah tak terduga!

Betapa kayanya!

Tetap dinyanyikan malak

Dan saleh-saleh-Nya.2


1 Johhny Brown adalah selebriti legendaris Amerika Serikat, asal Texas

2 F. M. Lehman, The Love of God, 1917; dikutip dalam Bill Hybels, Courageous Leadership (Grand Rapids: Zondervan, 2002), 78.

Related Topics: Devotionals