Where the world comes to study the Bible

Dia Berkemah di Tengah-tengah Kita

Related Media

Penerjemah: Yoppi Margianto

Baru-baru ini ketika kepolisian reserse anti narkoba mengadakan suatu penggeledahan di sebuah apartemen di daerah kumuh kota New York, mereka menyaksikan langsung suatu “Opera Pengemis”. Setiap meter persegi dari apartemen yang panjang dan kotor itu dipenuhi dengan para gelandangan yang tidur di lantai, atau duduk berimpitan di sudut ruangan; samar-samar di atas langit-langit tertempel hiasan kertas; rupanya di siang hari tempat itu dijadikan arena dansa. Sesudah menggeledah orang-orang, polisi menahan enam orang yang kedapatan membawa jarum suntik dan beberapa paket heroin; mereka juga menahan pemilik apartemen, seorang pria yang kurus dan tenang, dengan tuntutan menyembunyikan pemakai narkoba di apartemennya.

Di kantor polisi, pria kurus tersebut menyatakan bahwa ia sebenarnya adalah orang yang baik-baik, namun ia lebih memilih untuk hidup di antara para gelandangan agar ia dapat menyediakan mereka makanan, pakaian dan tempat berlindung. Apartemennya terbuka bagi semua orang, demikian katanya, termasuk kalangan minoritas pengguna narkoba, karena ia tidak tahu bahwa memberi sandang dan pangan bagi orang-orang yang terikat dengan narkoba adalah perbuatan melanggar hukum. Setelah menyelidiki riwayat hidupnya, polisi mendapatkan bahwa pria ini bukan seorang gelandangan maupun pengguna narkoba. Dia adalah John Sargent Cram, seorang kaya yang telah mengajar di Princeton dan Oxford, yang keluarganya telah lemah dikenal karena paham filantropis mereka (cinta akan sesama). 1

Demikian juga dengan Allah di dalam Kristus. Dia juga, meskipun kekayaannya sungguh tak terukur, telah meninggalkan kediaman-Nya yang permai untuk tinggal di antara gelandangan, kaum miskin, dan kaum tertolak di muka bumi ini. Ia meninggalkan istana emas-Nya untuk melangkah di jalan-jalan berlumpur… dan Ia melakukan itu untuk menyelamatkan kita (Gal 1:4). Ia meninggalkan daerah yang bebas narkoba untuk tinggal dengan para penjual pil dan paket heroin, agar dapat memberi mereka makanan, pakaian dan menebus mereka. Seperti dikatakan Yohanes, Yesus diam (berkemah) di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh 1:14).

Pernahkah Anda merenungkan dengan sungguh-sungguh peristiwa inkarnasi itu, yakni bagaimana Allah rela mengenakan tubuh manusia yang fana untuk dapat hidup di antara tangan-tangan yang kotor dan hati yang ternoda? Sungguh merupakan hal yang mengagumkan sekaligus misteri bahwa Allah sendiri mengunjungi planet-Nya dan berkemah di tengah-tengah kita—di antara kaum Farisi, pemungut cukai, pelacur, orang-orang miskin. Seperti warna matahari tenggelam, jingga, oranye dan biru, kenyataan akan inkarnasi adalah sungguh menakjubkan dan benar-benar suatu misteri. Bahwa Tuhan kita mau meninggalkan kekayaan-Nya untuk makan dengan orang-orang di jalanan adalah sungguh-sungguh mengherankan dan di luar pemahaman kita.

Hari ini, sementara Anda menjalankan urusan Anda, pikirkanlah dalam-dalam tentang Yesus Kristus, terutama tentang harga yang Ia bayar untuk tinggal di antara kita sebagai Allah dan juga manusia. Tanyakanlah diri Anda beberapa pertanyaan ini: (1) Apa yang telah aku berikan bagi-Nya? (2) Apa yang harus kuperbuat setelah menyadari bahwa Anak Allah yang kekal itu telah selamanya mengenakan pakaian kemanusiaan bagi diri-Nya? Pernahkah Anda menyadari hal itu? Pribadi kedua dari Trinitas akan selamanya berjalan bersama kita sebagai Anak Allah yang berinkarnasi? Tidak akan pernah Ia menanggalkan kembali tubuh kemuliaan-Nya itu. (3) Apa yang aku dapatkan dari inkarnasi tentang kerinduan Allah untuk bersekutu denganku? (4) Bagaimana kedatangan Yesus yang pertama ini menjadi suatu penyataan tentang siapa Allah, namun sekaligus suatu yang terselubung? (5) Apa yang kuperoleh dari inkarnasi tentang pandangan Allah akan penciptaan? (6) Bagaimana seharusnya aku menyembah Allah setelah memahami akan inkarnasi?


1 Charles R. Swindoll, ed. The Tale of the Tardy Oxcart and 1,501 Other Stories (Nashville: Word, 1998), 111.

Related Topics: Devotionals, Incarnation