Where the world comes to study the Bible

"Aku Menyertaimu Senantiasa" dalam Segala Keadaan

Penerjemah: Yoppi Margianto

 

(“I Am With You Always,” Through Thick and Thin)

Allah itu penuh kuasa dan mengetahui segala sesuatu. Tetapi pernahkah Anda memikirkan tentang hubungan-Nya terhadap ruang angkasa? Bukan ruang luar angkasa, melainkan hubungan-Nya dengan apapun yang ada di dunia ini? Allah yang kita sembah adalah Mahakuasa. Yeremia menegaskan hal ini, “Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN” (23:24).

Ini artinya di manapun kita berada, Dia ada. Ini artinya, sekarang juga Allah berada dekat dengan Anda dan jika Anda adalah seorang Kristen, Dia ada bersama dengan Anda—dengan cara yang unik—dengan keberadaan-Nya yang sepenuhnya dan dengan perhatian yang sama sekali tidak terbagi-bagi. Namun tetap, di saat yang sama, dan dengan cara yang sama, Dia berada dengan saya dan setiap saudara seiman di seluruh dunia. Jadi, terdapat suatu hubungan yang erat antara pengetahuan-Nya yang tak terbatas dan kehadiran-Nya yang juga tak terbatas. Pemazmur mengetahui hal ini dan begitu begitu kagum akan sifat Allah yang luar biasa ini:

Di dalam Mazmur 139:1-4 pemazmur sangat sadar bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang dia…

139:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; 2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. 3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. 4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. 5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. 6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

…kemudian pemazmur menghubungkan pengetahuan Allah atas kita itu dengan kehadiran-Nya bersama-sama dengan kita:

139:7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? 8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. 9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, 10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. 11 Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," 12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

…kemudian pemazmur mengawinkan pengetahuan Allah dan kehadiran-Nya itu dengan kuasa-Nya dalam penciptaan. Allah adalah Dia yang menciptakan kita dan menetapkan rencana bagi hidup kita (band. Kisah Para Rasul 17:24-28):

139:13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. 14 Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. 15 Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; 16 mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun darinya (lihat Yeremia 1:5).

Bukankah sesuatu yang luar biasa bahwa pemazmur mengakhirinya dengan suatu kesadaran yang tajam akan keterbatasan yang ia miliki sebagai ciptaan, yang begitu bertolak belakang jika dibandingkan dengan pengetahuan, kehadiran dan kuasa Allah…

139:17 Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! 18 Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak daripada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

…Karena itulah, kita harus merindukan tegaknya kerajaan Allah baik di dunia ini maupun di dalam kehidupan kita sendiri!

139:19 Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah, 20 yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia. 21 Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? 22 Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku. 23 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; 24 lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Jadi, makna apa yang kita peroleh dari pelajaran di atas? Mari kita renungkan kembali. Kemahahadiran Allah berarti bahwa Yesus akan selalu ada bersama-sama dengan kita sementara kita menjalankan amanat-Nya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa segala kuasa sudah diberikan kepada-Nya dan memerintahkan mereka untuk pergi dan membagikan pesan-Nya tentang iman dan ketaatan kepada semua orang di muka bumi ini, dan kemudian menambahkan, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20; band. Kejadian 28:15).

Kemahahadiran-Nya juga berarti bahwa ketika orang-orang datang kepada Kristus, dan menemukan masalah mengenai hubungan, maka orang-orang Kristen dapat bersama-sama memecahkan masalah tersebut dengan kesadaran penuh bahwa Kristus ada bersama-sama dengan mereka. Di dalam Matius 18:20 Dia berkata—dalam konteks disiplin gereja—bahwa “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku (yakni untuk memulihkan seorang saudara seiman yang berdosa), di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kebenaran di sini adalah bahwa Yesus selalu berada bersama-sama dengan orang-orang Kristen entah hanya ada satu orang yang hadir ataupun seratus orang, tetapi Dia menghendaki kita untuk mengetahui bahwa Dia tidak akan membiarkan kita di dalam situasi sulit dalam proses kita sebagai murid. Kita dapat bersandar pada kehadiran-Nya ketika kita harus berhadapan dengan seorang saudara yang berdosa, atau berkonfrontasi dengan pasangan kita, menanyakan seorang muda yang khilaf, membakar semangat karyawan, memenuhi keinginan anak-anak kita, menghadapi kesulitan dalam pekerjaan, berurusan dengan pelanggan yang pemarah, dan sebagainya.

Karena itu, kebenaran akan kemahahadiran Allah adalah kabar baik karena hal itu meyakinkan kita bahwa untuk apapun Allah memanggil kita, atau kejadian apapun yang Dia ijinkan untuk terjadi di dalam hidup kita, Dia akan ada bersama-sama dengan kita. Dia tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan kita.

Related Topics: Devotionals